Selasa, 29 September 2015

cerpen    
 MIMPI SEPASANG MERPATI

      “AWAS..!” Seru seseorang yang terdengar tidak familier di telinga Kikan. Suaranya terdengar jelas di tengah hingar bingar kerusuhan. Kikan tidak berani menoleh untuk melihat. Mungkin saja seruan itu tak ditujukan untuknya. Mungkin 2 kelompok remaja brutal yang sedang adu kekuasaan itu yang meneriakkan kata awas untuk saling mengancam.
Naskahnya. Kikan teringat sesuatu dan dengan panik mencari-cari di sekelilingnya. Apa yang dilihatnya nyaris membuatnya menjerit histeris. Naskah komiknya terserak di jalanan dan terinjak-injak. Kalau saja ia kuat, ingin rasanya ia menghajar anak-anak SMA yang tengah tawuran itu. Kikan merutuki nasibnya yang sial karena bisa-bisanya berjalan di jalanan yang sedang di booking untuk tawuran. Belum lagi naskah komiknya yang sekarang sudah persis bungkus nasi bekas. Padahal Kikan sudah nyaris seminggu begadang menyelesaikan komik itu. Belum lagi, ia harus sembunyi-sembunyi membuatnya. Kakeknya akan marah besar, kalau tahu Kikan menulis komik. Kakeknya tak pernah merestui cita-citanya untuk jadi komikus. Kakek ingin Kikan menjadi dokter yang hebat. Karena itu, sejak kecil kakek mengawasinya dengan ketat. Kakek ingin memastikan bahwa Kikan serius dengan sekolahnya. Mendapat nilai-nilai tinggi, meraih peringkat satu abadi di sekolah dan memenagkan banyak olimpiade. Kakek menerapkan jadwal belajar di rumah yang menurut Kikan agak konyol. Dari jam lima sore sampai jam 8 malam, Kikan tak boleh melakukan hal lain selain belajar. Kikan sudah melakukan semuanya. Sudah belajar semaksimal mungkin. Jungkir balik menghafalkan rumus fisika dan tabel kimia. Tapi kakek selalu merasa usahanya kurang. Kakek selalu memaksanya berkutat dengan Sains setiap detik. Kakek ingin Kikan seperti  almarhum ayahnya. Seorang dokter spesialis jantung terkenal, lulusan Universitas Oxford.
Sebuah belati nyaris saja menyasarnya kalau saja tak ada tangan kekar yang menariknya mundur dari lautan anak-anak SMA beringas itu.
“komikku...!“ jerit Kikan berusaha melepaskan diri.
“apa kau gila? Kau tidak melihat mereka membawa senjata? Kau bisa mati konyol kena senjata nyasar!” Omel orang yang tadi menolongnya. Kikan berpaling heran melihat orang asing memarahinya. Ternyata ia seorang pemuda berseragam SMA yang sekepala lebih tinggi darinya. Ia masih memegangi lengan atas Kikan. Belum sempat Kikan melepaskan diri, sebuah tongkat besi melayang ke arahnya. Pemuda itu memaksanya menundukkan kepala Kikan tepat sebelum tongkat itu menghajar wajahnya.
“BUKK...!” Tongkat yang gagal pengenainya menghantam punggung pemuda yang menolongnya. Bunyi hantamannya membuat Kikan ngilu. Pasti rasanya sakit sekali.
“pergi dari sini. Cepat!” perintahnya mendorong Kikan menjauh ke trotoar. Kikan menggeleng panik. Pergi? Bagaimana dengan komikya?
“tidak mau. Aku harus mengambil komikku.” Kata Kikan. Kikan berdiri, pemuda itu menghadangnya.
“sudah kubilang jangan!” bentaknya. “sana pulang!”
Kikan merengur kesal. Ia memandang galak pemuda itu dan pandangannya tertuju pada Emblem sekolah di bahu kirinya. SMA Garuda Jaya. Sekolah Kikan. Awas saja mereka. Batin Kikan. Ia pun menjauh dari arena perkelahian. Ketika menoleh lagi, pemuda yang tadi menolongnya sudah hilang. Mungkin langsung ikut meramaikan pesta tawuran itu. Kikan mengeluarka Hp-nya dan menelepon seseorang.
????
Keesokan harinya Kikan melihat belasan anak kelas 3 tengah di jemur di lapangan upacara. Pak Wawan, guru Bp-nya tengah menguliahi ,mereka soal betapa tak pentingnya tawuran. Kikan menruskan langkah menuju kelasnya melewati lapangan upacara. Ia melihat ke arah kakak-kakak kelasnya yang dihukum. Rasakan. Batin Kikan kesal. Kemarin Kikan menelepon Pak Wawan dan mengadukan kalau anak-anak SMA Garuda Jaya terlibat tawuran. Di barisan paling ujung kiri Kikan mengenali seseorang. Pemuda itu nyengir ke arahnya. Pemuda yang menolong sekaligus memarahinya kemarin. Kikan mendengus kesal, kemudian setengah berlari menuju kelasnya.
????
Lonceng istirahat berdentang. Teman-teman sekelas Kikan berhamburan keluar kelas. Tapi di pintu kelas mereka berhenti. Sebagian malah menjauh dari pintu karena gugup. Yang perempuan bisik-bisik sambil memandang Kikan.
“Kikan, ada yang mencarimy.” Kata katon. Ketua kelas Kikan. Kikan mengangkat alis heran. Siapa sih yang mencarinya, sampai-sampai teman-temannya bertampang seperti baru saja melihat setan begitu. Kikan keluar. Oh, ternyata mereka memang baru saja melihat setan. Batin Kikan kesal sambil memelototi pemuda di hadapannya. Setan berwujud makhluk berandal paling ditakuti seantero sekolah.
“hai. Sapanya. Kikan diam saja.
“jangan bertampang begitu!” katanya. Ia menyodorkan setunpuk kertas pada Kikan. Kikan mengambilnya dengan ragu. Ia mengamati kertas itu dan langsung girangs etengah mati.
“komikku!” pekik Kikan. Ia refleks merangkul pemuda berandal tampan itu. Kikan langsung buru-buru melepas rangkulannya ketika teman-temannya ber-ciee-ciee ria. Wajahnya langsung merah padam dan Kikan menunduk malu sambuil memandangi komiknya. Kikan tak percaya. Gambar-gambarnya persis miliknya. Tertulis dengan pensil di atas kertas HVS putih bersih, tanpa bekas terinjak atau secuil pun noda tanah. Kok bisa?
“ya. Itu komikmu. Jadi sekarang kau  nisa berhenti memasang wajah cemberut setiap kali melihatku.
Ia kembali nyengir. “oh, ya. Namaku Samuel. Kau Kikan ‘kan?” pemuda bernama Samuel itu langsung ngacir sebelum Kikan sempat mengucapkan terimakasih.
????
“jadi kau memunguti semua lembaran naskah komukku dan menggambarnya ulang?” tanya Kikan tak percaya, ketika sam menjelaskanbagaimana komik yang sudah diinjak-injak remaja bengal waktu terlibat tawuran itu bisa berubah jadi baru lagi. Sam hanya mengangkat bahu. Sudah seminggu sejak sam datang ke kelasnya dan mengantarkan komik itu. Kikan lumayan sering ngobrol dengan sam sekarang. Awalnya ia agak takut pada pemuda berangasan itu. Tapi ternyata samlumayan baik. Sebaik yang bisa dilakukan seorang preman sekolah tukang tawuran. Sam juga ternyata jago membuat komik. Hobi yang samamembuat mereka bisa berteman akrab. Kikan dan seringkali membahas komik bersama. Kalau Kikan mendapat ide untuk membuat komik ia akan mecari Sam. Mereka lalu bergegas ke ruang perpustakaan sambil menenteng setumpuk kertas HVS dan mulai mereka-reka kisah komik agar menjadi seru. Kadang-kadang Kikan sebal pada Sam, kalau Sam terlalu banyak menambahkan adegan action dalam komik mereka.
“dasar berandal tukan tawuran!” bentak Kikan kesal. Membuat Bu Asti, petugas perpustakaan melotot ke arahnya. Kikan terpaksa meendahkan suaranya. “masa setiap lembar harus diisi dengan adegan action? Di awal cerita si tokoh sudah berkelahi dengan pria berotot. Eh, sekarang malah,,apa ini? menggebuk pasukan musuh dengan tongkat? Kau mau bikin tokoh jagoan atau tukang pukul bayaran?” Kikan mencerocor, sementara Sam hanya bisa menganga.
“komik tanpa adegan action mana seru?” bantah Sam.
“iya. Tahu. Tapi harus nyambung sama ceritanya dong.
“Oke.oke, Non. Maaf.” Kata sam mengalah.
Mendengar nada kalah dalam suara Sam, Kikan jadi tenang.
“kenapa sih kau suka adegan action? Apa ada hubungannya dengan hobi tawuran mu? Memang apa asyiknya tawuran? Kau hanya akan dapat dua hal dari tawuran, babak belur atau kena skors. Sam terbahak mendengar komentar Kikan. Bu asti melotot lebih galak lagi. Anak-anak lain yang sedang asyik membaca menyuarakan husss serentak. “maaf!” kata sam sambil garuk-garuk kepala. Kikan terpaksa membekap mulit menahan tawa. Ekspresi Sam tampang lucu sekali.
“yah, menurutku hebat saja. Kalau kau bisa berkelahi dan mengalahkan orang lain. Menikmati masa muda. Selagi tak punya beban yang harus kupikirkan sepanjang waktu. Toh, aku tak punya kegiatan lain yang butuh energi dan konsentrasi ekstra.” Jawab Sam santai.
“kau bisa belajar. Kau ‘kan sebentar lagi ujian.” Kata Kikan tiba-tiba. Sam menoleh ke arahnya.
“kupikir kau tak akan pernah ingat kalau aku ini kakak kelasmu. Kau tidak pernah memanggilku kakak seperti adik kelas normal lainnya. Dan untuk ukuran adik kelas, kau lumayan kurang ajar.” Canda Sam.
“tidak asyik. Lebih mudah menganggapmu teman daripada kakak kelas. Aku jadi canggung kalau harus menyebutmu kakak.” Jadi sampai dimana kita tadi? Kata Kikan tidak ingin topiknya dibelokkan.
“kau menyuruhku belajar. Haha. Dengar, Non. Aku bukan jenius dan pakar olimpiade sepertimu. Aku tak betah kalau harus duduk berjam-jam untuk belajar. Lebih baik aku membuat satu rim komik daripada harus membuat kepalaku mendidih menghafalkan rumus yang ngerti pun aku tidak.” Jawab Sam. “memangnya orangtuamu tidak pernah memaksaku belajar? Beruntung sekali.
“oh, mereka menyuruhkus sesekali. Tapi selama aku naik kelas dengan nilai cukup, mereka tak akan banyak komentar. Kikan merasa iri pada Sam. Kalau boleh memilih, ia juga ingin seperti sam. Remaja biasa yang bisa melakukan hal apapun sesukanya. Tidak harus mematuhi jam belajar konyol kakek yang nyaris menyita semua waktunya. Ia juga ingin sejenak melupakan matematika dan sains lalu membuat komik yang superseru.. Mengarang alur cerita, menggambar tokoh favoritnya. Komik selalu membuat Kikan bersemangat. Ia bercita-cita kelak akan menjadi penulis komik hebat sekaliber Masashi Kisimoto atau Fujiko F. Fujio.
“beruntung sekali.”komentar Kikan.  “orangtuamu tidak pernah menyuruh-nyuruhmu melakukan sesuatu sekehendak hati mereka. Memaksamu belajar hinggga otakmu meleleh. Ia meletakkan pensil dengan murung.
“memangnya orangtuamu begitu? Tanya Sam. Ia memandang Kikan dengantatapan penasaran.
“orangtuaku sudah meninggal. Kecelakaan pesawat waktu umurku lima tahun. Sejak itu, aku dirawat kakek. Kakek selalu menyuruhku belajar dengans seriur. Beliau ingin aku menjadi anak jenius, masuk universitas Oxford, kemudian menjadi dokter seperti ayahku. Kakek tidak suka aku membuat komik. Menurutnya komi itu tak ada gunanya.Buang-buang waktu dan tidak bisa menjamin masa depan.”Kikan tertunduk sedih.
“memangnya kau serius ingin jadi komikus? Kupikir kau hanya iseng.” Sahut Sam enteng.
Kikan memutar bola mata. “iseng? Hei. Aku tak pernah melaukan sesuatu hanya karena iseng. Aku serius. Aku ingin menjadi komikus indonesia yang karyanya terkenal sampai ke seluruh dunia. Aku ingin karyaku disukai semua orang. Seperti  Masashi Kisimoto.
“pengarang komik Naruto?” potong sam.
Kikan mengangguk antusias.
“haha, sepertinya menarik. Kalau begitu aku juga ingin jadi komikus.” Kata Sam
“horee!”pekik Kikan senang. “kapan-kapan kita bisa berduet bikin komik. Komik paling terkenal di dunia.” Sambung Kikan berapi-api.
“Boleh saja. Asal kau tidak mengkritikku terus-mnerus.”
Kikan merengut.”baik.” jawab Kikan kemudian. “Asal adegan actionnya masuk akal”. Sam tertawa dan mau tak mau Kikan ikut tertawa.

????
Waktu berlalu dengan cepat. Seperti tak lagi terasa perputarannya. Dan untuk Kikan yang labih banyak menghabiskan waktu dengan berkurung di kamar dan melahap buku-buku sains yang dibelikan kakek, tentu waktu seakan tak berarti. Tanpa terasa bulan telah beralih, dari Maret ke April. Sebentar lagi sam akan menghadapi ujian nasional. Kikan berhasil memaksanya berjanji untuk serius belajar dan lulus dengan baik. Dan itu membuat Sam sibuk. Waktu istirahat, Sam selalu mengerjakan tugas dengan teman-teman sekelasnya, sementara saat pulang sekolah, Sam ikut bimbingan belajar wajib yang diadakan pihak sekolah. Kikan jadi jarang melihatnya. Kikan merasa agak kesepian. Sam adalah partnet yang asyik untuk diajak membuat komik. Kikan si jenius yang tak pernah benar-benar punya teman akrab seperti anak-anak lain yang punya sahabat, punya genk, merasa Sam bena-benar temannya. Umumnya teman-teman sekelas Kikan menjaga jarak dengan Kikan. Entah kenapa.
Siang itu, pulang sekolah, Kikan terpaksa jalan kaki sendiri. Kakek yang biasamenjemputnya sedang ada rapat di rumah sakit. Kakek Kikan adalah dokter Kepala Rumah Sakit Bakti Sentosa.
“Kikan, Hei...Kikan!” seru seseorang. Kikan berpaling dan melihat Sam berlari-lari ke arahnya. Bukannya Sam ada bimbingan belajar? Batin Kikan.
“apa yang kau lakukan disini? Kau tidak ikut Bimbel?” tanya Kikan setelah Sam sampai di hadapannya.
“aku bolos!” Kata Sam enteng.
“apa? Tapi kau ‘kan sudah janji?” protes Kikan kesal.
“astaga Kikan! Aku janji akan serius belajar dan lulus. Seingatku aku tidakpernah janji untuk tidak akan bolos bimbel.”
“Tapi ‘kan...
“oke. Oke. Nona Profesor, sindirnya.” Kikan memukul lengan Sam dengan buku sains tebalnya.
“aku bolos, karena mencarimu. Aku tidak bisa mencarimu selama pelajaran sekolah, teman-teman kelompokku akan mencincangku kalau kalau aku tidak ikut persiapan ujian praktek.” Gerutunya.
“kenapa mencariku? Kangen, Ya?” goda Kikan, maksudnya Cuma bercanda, tapi mendadak Sam jadi kikuk. Kikan tertawa. Sam berusaha kembali bersikap biasa.
“Lihat.” Sam meyodorkan sebuah brosur pada Kikan.
“apa ini?”
“lomba menulis komik. Tentu saja.” Kata sam. Ia tersenyum lebar.
“kau tahu apa hadiahnya? Seru Sam dengan bersemangat. “pelatihan menulis komik di jepang semala 1 tahun, lalu kontrak penerbitan komik.
“benarkah?” kikan langsung girang setengah mati. Ia bisa menerbitkan komik buatannya kalau menang.
“Sam,,,!” Seru seseorang dari depan gerbang sekolah. Kikan memandang ke arah orang itu. Ternyata Pak Abdi. Guru Fisikia kelas 12. Sam membelakak panik. “ya, sudah!” sepertinya aku batal bolos.” Katanya miris.”bisa bisa aku dikunyah-kunyah pak Abdi. Baca brosurnya. Minggu depan aku jemput jam 2 siang.” Kata Sam ia lalu berjalan dengan langkah berat menuju Pak abdi. Guru Fisika bertubuh tambun itu tampakmenjewer telinga Sam dan menyeretnya masuk ke ruang bimbbel. Kikan terkikik geli melihatnya.
Seminggu kenudian. Kikan berdiri menunggu Sam didepan cafe. Ia memilih berdiri di luar karena tidak mau dikira sedang kencan dengan Sam kalau ada teman-teman sekolahnya yang melihat. Bisa-bisa geger satu sekolah. Kikan si kutu buku pacaran dengan Sam, berandalan sekolah? Wow. Kikan yakin kakeknya bakal kena serangan jantung. Kakek tidak mau Kikan bergaul dengan sembarang orang. Makanya Kikan tidak pernaha punya teman  akrab. Siapa sih yang mau, kalau hal pertama yang dilakukan kakek ketka ada temannya yang main ke rumah adalah menanyakan temannya itu anak siapa? Apa kerja ayahnya? Bagaimana prestasinya di sekolah?.
“Hai!” sapa Sam yang muncul di belakang Kikan. “sudah siap? Kikan mengangguk gugup. Baru kali ini naskah komik di tasnya terasa berat. Dan perasaan gugup itu berubah mmenjadi ngeri melihat melimpahnya jumlah peserta yang ikut. Ratusan? Bukan tapi ribuan. Berbondong-bondong  mereka memasuki gedung tempaat lomba digelar.
“kau tidak bilang, kalau pesertanya sebanyak ini.” kata Kikan. Sam memandangnya heran.
Astaga Kikan. Memangnya apa yang kau harapkan?Cuma beberapa orang? Hadianya saja tinggal di jepang dan kontrak terbit, yang tidak jago-jago amat membuat komik pun bakal tergiur.
“kalau begini mana mungkin aku menang? Jerit Kikan histeris. Sam kembali melongo.
“oh, ayolah. Ini bukan olimpiade Fisika. Tak ada yang memaksamu untuk menang. Santai saja.” Sam berusaha menenangkan.
“kau benar. Ini bukan olimpiade. Aku tak akan dimarahi kalau kalah.” Kikan tersenyum. Tapi senyumnya langsung buyar, ketika melihat sebuah sedan hitam berhenti di depannya. Kikan meneguk ludah panik. Kakeknya turun dari mobil.
“Kikan? Sedang apa kau disini?” tanya kakek.
“anu..itu. eh..!” kikan berusaha tidak terbata-bata. Kakek menolhe ke sekeliling dengan heran. Dan wajahnya berubah merah padam melihat spanduk yang terpamppang di depan gedung. Lomba Cipta Komik Nasional. Kikan menunduk ketakutan. Sam tidaktahu harus berbuat apa.
“kau ikut lomba ini?” bentak kakek. Sudah kakek bilang, kau tidak boleh lagi mengurusi komik. Fokus saja pada pelajaranmu. Pikirkan olimpiademu.”
“kek, maafin Kikan. Tapi sekali ini saja, kek. Izinkan Kikan ikut. Pliss kek. Setelah itu, kakek booleh menghukum Kikan, menambah jam belajar Kikan. Apapun kek. Sam terbelakak  mendengar Kikan mengucapkan tambahan jam belajar. Kikan nyaris menangis. Naskah komik di tangannya di genggamnya erat-erat.
“kau memang akan dihukum. Kau tidak boleh lagi keluar rumah. Jam belajarmu akan ditambah, karena berani beraninya melanggar larangan kakek.” Bentak kakek geram. Ia menarik tangan Kikan hingga naskah komik di tangan Kikan bertebaran di sekeliling mereka. Kakek menyeretnya masuk mobil. Kikan reflek mencengkeran tangan sam, menolak masuk mobil.
“kakek jahat...!” seru Kikan nyaring. Ia menyentakkan tangan kakek. Wajahnya bersimbah air mata. Kikan mencengkeram tangan sam semakin erat.
“kakek tidak pernah mengerti keinginan Kikan. Padahal selama ini Kikan selalu nurut apa kata kakek. Kikan belajar mati-matian. Kikan jadi jaura kelas. Menang olimpiade, bahkan Kikan tidak pernah melakukan hal lain selain belajar. Kikan tidak punya teman. Tapi kakek tidak peduli ‘kan? Yang penting apa yang kakek inginkan. kake tidak sayang pada Kikan. Kakek egois!”. Kakek membeliak kaget mendengar kata-kata Kikan. Kakek mengangkat tangan bermaksud menampar cucunya. Tapi sam refleks menahan tangan Kakek yang sudah terangkat ke udara. Kakek Kikan bertambah murka.
“siapa dia? Pacarmu?” bentak Kakek.
“Bukan. Sahut Sam lantang. “saya sahabat Kikan. Tapi saya tidak akan membiarkan kakek menampar Kikan. Kasihani dia kek. Dia hanya ingin mewujudkan mimpinya.”
Kikan terharu mendengarnya. Selama ini ia tak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya bila dibela seseorang.
“dasar bocah kurang ajar. Kau mau dihajar ya?” bentak kakek.
“saya tidak peduli. Kakek boleh menghajar saya sebagai pengganti Kikan. Asal kakek tidak memukulnya. Kikan menggeleng keras. Ia tidak mau kakek malah memukul Kikan.
“jangan, kek.” Seru Kikan. Mendorong Sam mundur. “Kikan tidak akan ikut lomba ini. Kikan akan pulang dengan kakek. Kikan menghapus air matanya. Ia merasakan gelombangkekecewaan yang teramat besar. Air matanya kembali menetes tak terkendali. Sekali lagi, ia menatap spanduk lomba. Kemudian masuk ke mobil kakek. Kakek terpana sesaat. Kemudian masuk mobil. Sam menatap Kikan yang terus menangis di dalam mobil.
“Kikan...!” kata Sam lirih. Sedan hitam itu mulai berjalan dan menghilang di balik tikungan. Meninggalkan Sam yang masih berdiri mematung menatap kertas-kertas yang bertebaran disana. Komik Kikan.
????
Kikan tengah melamun di kamarnya. Menatap kalender bergambar karikatur  Albert Einstein yang dibelikan kakek. Matanya tertuju pada tanggal 21 April. Hari ulang tahunnya. Ia tak pernah suka pesta. Jadi ia tak pernah serius mengingat hari ulang tahunnya. Biasanya hari itu akan berlalu begitu saja tanpa Kikan sadar kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya. Tapi kali ini tatapannya tidak bisa beralih dari tanggal itu. Kikan teringat gurauannya pada Sam. “kalau aku menang, itu akan jadi kado ulang tahun paling hebat untukku. Aku mungkin tak akan diizinkan ikut pelatihan oleh kakek. Tapi setidaknya aku tahu aku bisa menang dan mengalahkan ribuan peserta.
“Kau mungkin bisa mengalahkan ribuan peserta, tapi kau tak akan bisa mengalahkanku.” Sahut Sam. Senyum jail menghiasi wajahnya. Kikan meninju bahunya.
Air mata Kikan meleleh lagi. Sudah berhari-hari Kikan menagis dan mengurung diri di kamar. Ia belajar gila-gilaan untuk mengalihkan pikiran. Entah sudah berapa ratus soal fisika yang ia kerjakan. Seandainya saja memberi pengertian pada kakek semudah menyelesaikan soal fisika. Seandainya saja ada rumus yang bisa meluluhkan hati kakek. Kikan kemudian teringat Sam. Sam membelanya mati-matian waktu itu. Kikan tak pernah menyadari pentingnya arti seorang Sam hingga saat itu. Sam rela dihajar kakek untuk menggantikannya.
Terdengar suara ketukan di pintu. Kikan tidak bergeming. Itu pasti kakek. Kikan tidak mau bertemu kakek. Sudah beberapa kali kakek mengetuk pintu kamarnya. Mulai dari dengan suara garang mengancam sampai suara lembut bernada membujuk seperti sekarang.
“Kikan, buka pintunya. Kau harus makan. Sudah beberapa hari kau tidak makan. Ini kakek bawakan nasi goreng kesukaanmu.” Suara kakek terdengar lembut di balik pintu. Kikan hanya mendengus. Ia tidak beranjas sesenti pun untuk membukakan pintu. Kakek terus mengetuk.
“kakek minta maaf. Sudah memaksamu terus dan terus belajar. Tapi semua itu untuk kebaikanmu. Kau harus berhasil. Kau harus punya masa depan yang jelas dan cerah. Sekarang, kau boleh marah atau benci pada kakek, tapi suatu saat kau akan mengerti.”
Tidak. Kikan tidak mau mengerti. Apa gunanya punya masa depan cerah, kalau ia tidak bisa bahagia? Tidak bisa mencintai apa yang dia kerjakan? Air mata Kikan kembali membanjir. Ia sesegukan tak terkendali. Seandainya ibu dan atahnya masih ada, ia pasti akan memeluk mereka dan menangis sepuasnya di pangkuan mereka.
????
Tengah malam Kikan terbangun dari tidurnya. Ia menatap cermin dan melihat matanya luar biasa merah. Kikan ngeri sendiri memandang tampangnya yang ebrantakan. Ia meraih gelas di atas meja. Ternyata gelasnya sudah kosong. Kikan pun keluar dari kamar. Berharap tidak berpapasan dengan kakek.di sofa depan kamarnya Kikan terkejut mandapati kakeknya tengah tertidu tanpa selimut. Didepannya ada nasi goreng yang sudah dingin. Rupanya kakek meunggunya sedari tadi. Berharap Kikan mau keluar dan makan. Kikan memandangi wajah keriput kakek dan pikirannya melayang ke hari pemakaman orangtuanya. Kakek tidak mengizinkan Kikan ikut ke pemakaman. Waktu itu Kikan protes sambil membanting-banting segala benda di kamarnya ke pintu yang dikunci kakek. Belakangan Kikan tahu alasan kakek melarangnya. kakek tidak ingin Kikan bertambah sedih melihat jasad orangtuanya yang harus ditimbun tanah. Kikan kembali menatap nasi bertabur keju di meja. Apa iya Kikan yang egosi dan tidak pernah menghargai segala usaha kakek untuk mempersiapkan masa depan yang cerah untuknya? Kakek bergerak dalam tidurnya dan Kikan mendadak merasakan betapa lelahnya kakek selama ini. menjadi segalanya untuk Kikan. Ayah, ibu, sekaligus guru.
????
Kado ulang tahun Kikan memang luar biasa tahun ini.  bukan menjadi juara lomba mengarang komik. Tentu saja bukan. Tapi ia mendapat tawaran beasiswa dari universitas Oxford untuk melanjutkan SMU hingga perguruan tinggi disana. Nilai olimpiade MIPA-nya yang sempurna, juga catatan prestasinya yang gilang gemilang membuat pihak universitas memutuskan tidak perlu menunggunya tamat SMU untuk memmberinya beasiswa. Kikan sebetulnya tidak terlalu senang. Tapi inilah pertama kalinya ia melihat kakeknya yang biasa keras menangis haru dan memeluknya dengan bangga. Kakek pasti bahagia sekali. Kikan bisa merasakannya. Setelah perpisahan dengan teman-teman dan gurunya, Kikan diantar kakek menuju bandara. Kikan kecewa karena tidak melihat Sam.anak-anak kelas 12 telah selesai ujian. Tentu saja banyak dari mereka memilih tidak masuk sekolah. Sam mungkin salah satunya.
Guru-guru menatapnya dengan bangga. Bahkan Bu Asti yang selalu melotot galak padanya di perpustakaan memeluknya dengan mata berkaca-kaca. Kikan tiba di bandara setengah jam kemudian. Rupanya ini saat dimana ia harus mengcapkan selamat tinggal pada Indonesia. Pada mimpinya. Pada Sam. Saat memikirkan Sam, sayup-sayup Kikan seperti mendengar suara sam. Kikan berpaling menyaksikan orang yang berlalu lalang di bandara, tapi sam tak ada disana.
“Kikan, tunggu disini.” Kata Kakek. Kikan mengangguk. Kikan mennghela napas yang rasanya seperti menghela gunung.
“Kikan...!” seruan ilusi di kepalanya kembali terdengar. Kikan menggeleng. Khayalannya sudah keterlaluan.
“heeiii, Nona profesor...!” seruan itu terdengar lebih lantang. Dan itu bukan ilusi. Hanya satu orang yang pernah memanggilnya seperti itu. Sam tampak berlari dari ujung bandara. Menenteng sesuatu seperti piala. Wajahnya luar biasa tampan dari kejauhan.
“Kikan, selamat ulang tahun.” Serunya. Sam emnyodorkan piala indah itu pada Kikan. Kikan mengenali piala itu dari brosur pemberian Sam.
“kau menang?” pekik Kikan. “kau menang lomba komik itu? Kau hebat. Kikan merangkul Sam. Kikan segera melepaskan rangkulannya. Wajah Sam tampak merah menyala.
“kau yang menang.” Kata sam agak kikuk.
“eh?”
“kau ingat komikmu yang bertebaran di jalan?. Aku mengikutkannya lomba atas namaku. Kau lihat? Kau bisa melakukannya. mengalahkan ribuan peserta. Kikan terpana. Bukan pada kenyataan bahwa komiknya menang, tapi pada apa yang dilakukan Sam.
“kau bisa tunjukkan ini pada kakekmu. Sam memandang berkeliling, mencari keberadaan kakek Kikan.
“kakek sedang mengurus sesuatu.” Kata Kikan.
“oke. Kau bisa bilang padanya, kau bisa punya masa depan dengan menjadi komikus. Kikan memandang sorot mata Sam yang membara. Kikan menggeleng.
“tapi kakekku tidak akan bahagia.”
“eh?” sam memandang Kikan heran.
“aku bisa saja jadi orang terkaya di dunia dengan menjadi komikus. Tapi kakekku tak akan bahagia. Kakek ingin aku kuliah di Oxford dan menjadi dokter. Maka itu yang akan kulakukuan.”
Entah apa yang menggerakkan hatinya, tapi Kikan tahu itulah hal yang benar. Ia akan mendahulukan kebahagiaan kakeknya. satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.
“tapi kau tidak akan bahagia.” Bantah Sam.
“nanti.”
“nanti aku akan bahagia. Setelah membahagiakan kakek, akan kukejar kebahagiaanku sendiri.” Kikan tak percaya ia bisa mengatakan hal itu. Tapi sorot mata Sam yang membara membakar tekadnya.
“aku akan menemukanmu.” Kata Sam.kikan memandangnya heran.
“nanti. Di masa depan, ketika kau memutuskan untuk mencari kebahagiaanmu, aku pasti akan menemukanmu.” Kata Sam. Senyum Kikan mengembang. Dan kali ini ia tahu apa yang akan diungkapkan Sam bahkan sebelum Sam mengatakannya.
“kita akan saling menemukan.” Jawab Kikan.
Ia berjalan menghampiri kakek yang telah menantinya di tangga pesawat. Beberapa saat kemudian, pesawat mengangkasa. Kikan memandangi bandara Soekarno-hatta dari ketinggian. Memandangi orang-orang yang berseliweran di bawah sana. Yang mungkin salah satunya adalah Sam. Teman pertamanya. Sahabatnya. Orang yang mencintainya.Kikan akan menepati janjinya pada Sam. Sejauh apapun ia pergi, suatu saat ia akan kembali dan mencari kebahagiaannya itu.
@The End?




cerpen
     
MIMPI SEPASANG MERPATI

      “AWAS..!” Seru seseorang yang terdengar tidak familier di telinga Kikan. Suaranya terdengar jelas di tengah hingar bingar kerusuhan. Kikan tidak berani menoleh untuk melihat. Mungkin saja seruan itu tak ditujukan untuknya. Mungkin 2 kelompok remaja brutal yang sedang adu kekuasaan itu yang meneriakkan kata awas untuk saling mengancam.
Naskahnya. Kikan teringat sesuatu dan dengan panik mencari-cari di sekelilingnya. Apa yang dilihatnya nyaris membuatnya menjerit histeris. Naskah komiknya terserak di jalanan dan terinjak-injak. Kalau saja ia kuat, ingin rasanya ia menghajar anak-anak SMA yang tengah tawuran itu. Kikan merutuki nasibnya yang sial karena bisa-bisanya berjalan di jalanan yang sedang di booking untuk tawuran. Belum lagi naskah komiknya yang sekarang sudah persis bungkus nasi bekas. Padahal Kikan sudah nyaris seminggu begadang menyelesaikan komik itu. Belum lagi, ia harus sembunyi-sembunyi membuatnya. Kakeknya akan marah besar, kalau tahu Kikan menulis komik. Kakeknya tak pernah merestui cita-citanya untuk jadi komikus. Kakek ingin Kikan menjadi dokter yang hebat. Karena itu, sejak kecil kakek mengawasinya dengan ketat. Kakek ingin memastikan bahwa Kikan serius dengan sekolahnya. Mendapat nilai-nilai tinggi, meraih peringkat satu abadi di sekolah dan memenagkan banyak olimpiade. Kakek menerapkan jadwal belajar di rumah yang menurut Kikan agak konyol. Dari jam lima sore sampai jam 8 malam, Kikan tak boleh melakukan hal lain selain belajar. Kikan sudah melakukan semuanya. Sudah belajar semaksimal mungkin. Jungkir balik menghafalkan rumus fisika dan tabel kimia. Tapi kakek selalu merasa usahanya kurang. Kakek selalu memaksanya berkutat dengan Sains setiap detik. Kakek ingin Kikan seperti  almarhum ayahnya. Seorang dokter spesialis jantung terkenal, lulusan Universitas Oxford.
Sebuah belati nyaris saja menyasarnya kalau saja tak ada tangan kekar yang menariknya mundur dari lautan anak-anak SMA beringas itu.
“komikku...!“ jerit Kikan berusaha melepaskan diri.
“apa kau gila? Kau tidak melihat mereka membawa senjata? Kau bisa mati konyol kena senjata nyasar!” Omel orang yang tadi menolongnya. Kikan berpaling heran melihat orang asing memarahinya. Ternyata ia seorang pemuda berseragam SMA yang sekepala lebih tinggi darinya. Ia masih memegangi lengan atas Kikan. Belum sempat Kikan melepaskan diri, sebuah tongkat besi melayang ke arahnya. Pemuda itu memaksanya menundukkan kepala Kikan tepat sebelum tongkat itu menghajar wajahnya.
“BUKK...!” Tongkat yang gagal pengenainya menghantam punggung pemuda yang menolongnya. Bunyi hantamannya membuat Kikan ngilu. Pasti rasanya sakit sekali.
“pergi dari sini. Cepat!” perintahnya mendorong Kikan menjauh ke trotoar. Kikan menggeleng panik. Pergi? Bagaimana dengan komikya?
“tidak mau. Aku harus mengambil komikku.” Kata Kikan. Kikan berdiri, pemuda itu menghadangnya.
“sudah kubilang jangan!” bentaknya. “sana pulang!”
Kikan merengur kesal. Ia memandang galak pemuda itu dan pandangannya tertuju pada Emblem sekolah di bahu kirinya. SMA Garuda Jaya. Sekolah Kikan. Awas saja mereka. Batin Kikan. Ia pun menjauh dari arena perkelahian. Ketika menoleh lagi, pemuda yang tadi menolongnya sudah hilang. Mungkin langsung ikut meramaikan pesta tawuran itu. Kikan mengeluarka Hp-nya dan menelepon seseorang.
????
Keesokan harinya Kikan melihat belasan anak kelas 3 tengah di jemur di lapangan upacara. Pak Wawan, guru Bp-nya tengah menguliahi ,mereka soal betapa tak pentingnya tawuran. Kikan menruskan langkah menuju kelasnya melewati lapangan upacara. Ia melihat ke arah kakak-kakak kelasnya yang dihukum. Rasakan. Batin Kikan kesal. Kemarin Kikan menelepon Pak Wawan dan mengadukan kalau anak-anak SMA Garuda Jaya terlibat tawuran. Di barisan paling ujung kiri Kikan mengenali seseorang. Pemuda itu nyengir ke arahnya. Pemuda yang menolong sekaligus memarahinya kemarin. Kikan mendengus kesal, kemudian setengah berlari menuju kelasnya.
????
Lonceng istirahat berdentang. Teman-teman sekelas Kikan berhamburan keluar kelas. Tapi di pintu kelas mereka berhenti. Sebagian malah menjauh dari pintu karena gugup. Yang perempuan bisik-bisik sambil memandang Kikan.
“Kikan, ada yang mencarimy.” Kata katon. Ketua kelas Kikan. Kikan mengangkat alis heran. Siapa sih yang mencarinya, sampai-sampai teman-temannya bertampang seperti baru saja melihat setan begitu. Kikan keluar. Oh, ternyata mereka memang baru saja melihat setan. Batin Kikan kesal sambil memelototi pemuda di hadapannya. Setan berwujud makhluk berandal paling ditakuti seantero sekolah.
“hai. Sapanya. Kikan diam saja.
“jangan bertampang begitu!” katanya. Ia menyodorkan setunpuk kertas pada Kikan. Kikan mengambilnya dengan ragu. Ia mengamati kertas itu dan langsung girangs etengah mati.
“komikku!” pekik Kikan. Ia refleks merangkul pemuda berandal tampan itu. Kikan langsung buru-buru melepas rangkulannya ketika teman-temannya ber-ciee-ciee ria. Wajahnya langsung merah padam dan Kikan menunduk malu sambuil memandangi komiknya. Kikan tak percaya. Gambar-gambarnya persis miliknya. Tertulis dengan pensil di atas kertas HVS putih bersih, tanpa bekas terinjak atau secuil pun noda tanah. Kok bisa?
“ya. Itu komikmu. Jadi sekarang kau  nisa berhenti memasang wajah cemberut setiap kali melihatku.
Ia kembali nyengir. “oh, ya. Namaku Samuel. Kau Kikan ‘kan?” pemuda bernama Samuel itu langsung ngacir sebelum Kikan sempat mengucapkan terimakasih.
????
“jadi kau memunguti semua lembaran naskah komukku dan menggambarnya ulang?” tanya Kikan tak percaya, ketika sam menjelaskanbagaimana komik yang sudah diinjak-injak remaja bengal waktu terlibat tawuran itu bisa berubah jadi baru lagi. Sam hanya mengangkat bahu. Sudah seminggu sejak sam datang ke kelasnya dan mengantarkan komik itu. Kikan lumayan sering ngobrol dengan sam sekarang. Awalnya ia agak takut pada pemuda berangasan itu. Tapi ternyata samlumayan baik. Sebaik yang bisa dilakukan seorang preman sekolah tukang tawuran. Sam juga ternyata jago membuat komik. Hobi yang samamembuat mereka bisa berteman akrab. Kikan dan seringkali membahas komik bersama. Kalau Kikan mendapat ide untuk membuat komik ia akan mecari Sam. Mereka lalu bergegas ke ruang perpustakaan sambil menenteng setumpuk kertas HVS dan mulai mereka-reka kisah komik agar menjadi seru. Kadang-kadang Kikan sebal pada Sam, kalau Sam terlalu banyak menambahkan adegan action dalam komik mereka.
“dasar berandal tukan tawuran!” bentak Kikan kesal. Membuat Bu Asti, petugas perpustakaan melotot ke arahnya. Kikan terpaksa meendahkan suaranya. “masa setiap lembar harus diisi dengan adegan action? Di awal cerita si tokoh sudah berkelahi dengan pria berotot. Eh, sekarang malah,,apa ini? menggebuk pasukan musuh dengan tongkat? Kau mau bikin tokoh jagoan atau tukang pukul bayaran?” Kikan mencerocor, sementara Sam hanya bisa menganga.
“komik tanpa adegan action mana seru?” bantah Sam.
“iya. Tahu. Tapi harus nyambung sama ceritanya dong.
“Oke.oke, Non. Maaf.” Kata sam mengalah.
Mendengar nada kalah dalam suara Sam, Kikan jadi tenang.
“kenapa sih kau suka adegan action? Apa ada hubungannya dengan hobi tawuran mu? Memang apa asyiknya tawuran? Kau hanya akan dapat dua hal dari tawuran, babak belur atau kena skors. Sam terbahak mendengar komentar Kikan. Bu asti melotot lebih galak lagi. Anak-anak lain yang sedang asyik membaca menyuarakan husss serentak. “maaf!” kata sam sambil garuk-garuk kepala. Kikan terpaksa membekap mulit menahan tawa. Ekspresi Sam tampang lucu sekali.
“yah, menurutku hebat saja. Kalau kau bisa berkelahi dan mengalahkan orang lain. Menikmati masa muda. Selagi tak punya beban yang harus kupikirkan sepanjang waktu. Toh, aku tak punya kegiatan lain yang butuh energi dan konsentrasi ekstra.” Jawab Sam santai.
“kau bisa belajar. Kau ‘kan sebentar lagi ujian.” Kata Kikan tiba-tiba. Sam menoleh ke arahnya.
“kupikir kau tak akan pernah ingat kalau aku ini kakak kelasmu. Kau tidak pernah memanggilku kakak seperti adik kelas normal lainnya. Dan untuk ukuran adik kelas, kau lumayan kurang ajar.” Canda Sam.
“tidak asyik. Lebih mudah menganggapmu teman daripada kakak kelas. Aku jadi canggung kalau harus menyebutmu kakak.” Jadi sampai dimana kita tadi? Kata Kikan tidak ingin topiknya dibelokkan.
“kau menyuruhku belajar. Haha. Dengar, Non. Aku bukan jenius dan pakar olimpiade sepertimu. Aku tak betah kalau harus duduk berjam-jam untuk belajar. Lebih baik aku membuat satu rim komik daripada harus membuat kepalaku mendidih menghafalkan rumus yang ngerti pun aku tidak.” Jawab Sam. “memangnya orangtuamu tidak pernah memaksaku belajar? Beruntung sekali.
“oh, mereka menyuruhkus sesekali. Tapi selama aku naik kelas dengan nilai cukup, mereka tak akan banyak komentar. Kikan merasa iri pada Sam. Kalau boleh memilih, ia juga ingin seperti sam. Remaja biasa yang bisa melakukan hal apapun sesukanya. Tidak harus mematuhi jam belajar konyol kakek yang nyaris menyita semua waktunya. Ia juga ingin sejenak melupakan matematika dan sains lalu membuat komik yang superseru.. Mengarang alur cerita, menggambar tokoh favoritnya. Komik selalu membuat Kikan bersemangat. Ia bercita-cita kelak akan menjadi penulis komik hebat sekaliber Masashi Kisimoto atau Fujiko F. Fujio.
“beruntung sekali.”komentar Kikan.  “orangtuamu tidak pernah menyuruh-nyuruhmu melakukan sesuatu sekehendak hati mereka. Memaksamu belajar hinggga otakmu meleleh. Ia meletakkan pensil dengan murung.
“memangnya orangtuamu begitu? Tanya Sam. Ia memandang Kikan dengantatapan penasaran.
“orangtuaku sudah meninggal. Kecelakaan pesawat waktu umurku lima tahun. Sejak itu, aku dirawat kakek. Kakek selalu menyuruhku belajar dengans seriur. Beliau ingin aku menjadi anak jenius, masuk universitas Oxford, kemudian menjadi dokter seperti ayahku. Kakek tidak suka aku membuat komik. Menurutnya komi itu tak ada gunanya.Buang-buang waktu dan tidak bisa menjamin masa depan.”Kikan tertunduk sedih.
“memangnya kau serius ingin jadi komikus? Kupikir kau hanya iseng.” Sahut Sam enteng.
Kikan memutar bola mata. “iseng? Hei. Aku tak pernah melaukan sesuatu hanya karena iseng. Aku serius. Aku ingin menjadi komikus indonesia yang karyanya terkenal sampai ke seluruh dunia. Aku ingin karyaku disukai semua orang. Seperti  Masashi Kisimoto.
“pengarang komik Naruto?” potong sam.
Kikan mengangguk antusias.
“haha, sepertinya menarik. Kalau begitu aku juga ingin jadi komikus.” Kata Sam
“horee!”pekik Kikan senang. “kapan-kapan kita bisa berduet bikin komik. Komik paling terkenal di dunia.” Sambung Kikan berapi-api.
“Boleh saja. Asal kau tidak mengkritikku terus-mnerus.”
Kikan merengut.”baik.” jawab Kikan kemudian. “Asal adegan actionnya masuk akal”. Sam tertawa dan mau tak mau Kikan ikut tertawa.

????
Waktu berlalu dengan cepat. Seperti tak lagi terasa perputarannya. Dan untuk Kikan yang labih banyak menghabiskan waktu dengan berkurung di kamar dan melahap buku-buku sains yang dibelikan kakek, tentu waktu seakan tak berarti. Tanpa terasa bulan telah beralih, dari Maret ke April. Sebentar lagi sam akan menghadapi ujian nasional. Kikan berhasil memaksanya berjanji untuk serius belajar dan lulus dengan baik. Dan itu membuat Sam sibuk. Waktu istirahat, Sam selalu mengerjakan tugas dengan teman-teman sekelasnya, sementara saat pulang sekolah, Sam ikut bimbingan belajar wajib yang diadakan pihak sekolah. Kikan jadi jarang melihatnya. Kikan merasa agak kesepian. Sam adalah partnet yang asyik untuk diajak membuat komik. Kikan si jenius yang tak pernah benar-benar punya teman akrab seperti anak-anak lain yang punya sahabat, punya genk, merasa Sam bena-benar temannya. Umumnya teman-teman sekelas Kikan menjaga jarak dengan Kikan. Entah kenapa.
Siang itu, pulang sekolah, Kikan terpaksa jalan kaki sendiri. Kakek yang biasamenjemputnya sedang ada rapat di rumah sakit. Kakek Kikan adalah dokter Kepala Rumah Sakit Bakti Sentosa.
“Kikan, Hei...Kikan!” seru seseorang. Kikan berpaling dan melihat Sam berlari-lari ke arahnya. Bukannya Sam ada bimbingan belajar? Batin Kikan.
“apa yang kau lakukan disini? Kau tidak ikut Bimbel?” tanya Kikan setelah Sam sampai di hadapannya.
“aku bolos!” Kata Sam enteng.
“apa? Tapi kau ‘kan sudah janji?” protes Kikan kesal.
“astaga Kikan! Aku janji akan serius belajar dan lulus. Seingatku aku tidakpernah janji untuk tidak akan bolos bimbel.”
“Tapi ‘kan...
“oke. Oke. Nona Profesor, sindirnya.” Kikan memukul lengan Sam dengan buku sains tebalnya.
“aku bolos, karena mencarimu. Aku tidak bisa mencarimu selama pelajaran sekolah, teman-teman kelompokku akan mencincangku kalau kalau aku tidak ikut persiapan ujian praktek.” Gerutunya.
“kenapa mencariku? Kangen, Ya?” goda Kikan, maksudnya Cuma bercanda, tapi mendadak Sam jadi kikuk. Kikan tertawa. Sam berusaha kembali bersikap biasa.
“Lihat.” Sam meyodorkan sebuah brosur pada Kikan.
“apa ini?”
“lomba menulis komik. Tentu saja.” Kata sam. Ia tersenyum lebar.
“kau tahu apa hadiahnya? Seru Sam dengan bersemangat. “pelatihan menulis komik di jepang semala 1 tahun, lalu kontrak penerbitan komik.
“benarkah?” kikan langsung girang setengah mati. Ia bisa menerbitkan komik buatannya kalau menang.
“Sam,,,!” Seru seseorang dari depan gerbang sekolah. Kikan memandang ke arah orang itu. Ternyata Pak Abdi. Guru Fisikia kelas 12. Sam membelakak panik. “ya, sudah!” sepertinya aku batal bolos.” Katanya miris.”bisa bisa aku dikunyah-kunyah pak Abdi. Baca brosurnya. Minggu depan aku jemput jam 2 siang.” Kata Sam ia lalu berjalan dengan langkah berat menuju Pak abdi. Guru Fisika bertubuh tambun itu tampakmenjewer telinga Sam dan menyeretnya masuk ke ruang bimbbel. Kikan terkikik geli melihatnya.
Seminggu kenudian. Kikan berdiri menunggu Sam didepan cafe. Ia memilih berdiri di luar karena tidak mau dikira sedang kencan dengan Sam kalau ada teman-teman sekolahnya yang melihat. Bisa-bisa geger satu sekolah. Kikan si kutu buku pacaran dengan Sam, berandalan sekolah? Wow. Kikan yakin kakeknya bakal kena serangan jantung. Kakek tidak mau Kikan bergaul dengan sembarang orang. Makanya Kikan tidak pernaha punya teman  akrab. Siapa sih yang mau, kalau hal pertama yang dilakukan kakek ketka ada temannya yang main ke rumah adalah menanyakan temannya itu anak siapa? Apa kerja ayahnya? Bagaimana prestasinya di sekolah?.
“Hai!” sapa Sam yang muncul di belakang Kikan. “sudah siap? Kikan mengangguk gugup. Baru kali ini naskah komik di tasnya terasa berat. Dan perasaan gugup itu berubah mmenjadi ngeri melihat melimpahnya jumlah peserta yang ikut. Ratusan? Bukan tapi ribuan. Berbondong-bondong  mereka memasuki gedung tempaat lomba digelar.
“kau tidak bilang, kalau pesertanya sebanyak ini.” kata Kikan. Sam memandangnya heran.
Astaga Kikan. Memangnya apa yang kau harapkan?Cuma beberapa orang? Hadianya saja tinggal di jepang dan kontrak terbit, yang tidak jago-jago amat membuat komik pun bakal tergiur.
“kalau begini mana mungkin aku menang? Jerit Kikan histeris. Sam kembali melongo.
“oh, ayolah. Ini bukan olimpiade Fisika. Tak ada yang memaksamu untuk menang. Santai saja.” Sam berusaha menenangkan.
“kau benar. Ini bukan olimpiade. Aku tak akan dimarahi kalau kalah.” Kikan tersenyum. Tapi senyumnya langsung buyar, ketika melihat sebuah sedan hitam berhenti di depannya. Kikan meneguk ludah panik. Kakeknya turun dari mobil.
“Kikan? Sedang apa kau disini?” tanya kakek.
“anu..itu. eh..!” kikan berusaha tidak terbata-bata. Kakek menolhe ke sekeliling dengan heran. Dan wajahnya berubah merah padam melihat spanduk yang terpamppang di depan gedung. Lomba Cipta Komik Nasional. Kikan menunduk ketakutan. Sam tidaktahu harus berbuat apa.
“kau ikut lomba ini?” bentak kakek. Sudah kakek bilang, kau tidak boleh lagi mengurusi komik. Fokus saja pada pelajaranmu. Pikirkan olimpiademu.”
“kek, maafin Kikan. Tapi sekali ini saja, kek. Izinkan Kikan ikut. Pliss kek. Setelah itu, kakek booleh menghukum Kikan, menambah jam belajar Kikan. Apapun kek. Sam terbelakak  mendengar Kikan mengucapkan tambahan jam belajar. Kikan nyaris menangis. Naskah komik di tangannya di genggamnya erat-erat.
“kau memang akan dihukum. Kau tidak boleh lagi keluar rumah. Jam belajarmu akan ditambah, karena berani beraninya melanggar larangan kakek.” Bentak kakek geram. Ia menarik tangan Kikan hingga naskah komik di tangan Kikan bertebaran di sekeliling mereka. Kakek menyeretnya masuk mobil. Kikan reflek mencengkeran tangan sam, menolak masuk mobil.
“kakek jahat...!” seru Kikan nyaring. Ia menyentakkan tangan kakek. Wajahnya bersimbah air mata. Kikan mencengkeram tangan sam semakin erat.
“kakek tidak pernah mengerti keinginan Kikan. Padahal selama ini Kikan selalu nurut apa kata kakek. Kikan belajar mati-matian. Kikan jadi jaura kelas. Menang olimpiade, bahkan Kikan tidak pernah melakukan hal lain selain belajar. Kikan tidak punya teman. Tapi kakek tidak peduli ‘kan? Yang penting apa yang kakek inginkan. kake tidak sayang pada Kikan. Kakek egois!”. Kakek membeliak kaget mendengar kata-kata Kikan. Kakek mengangkat tangan bermaksud menampar cucunya. Tapi sam refleks menahan tangan Kakek yang sudah terangkat ke udara. Kakek Kikan bertambah murka.
“siapa dia? Pacarmu?” bentak Kakek.
“Bukan. Sahut Sam lantang. “saya sahabat Kikan. Tapi saya tidak akan membiarkan kakek menampar Kikan. Kasihani dia kek. Dia hanya ingin mewujudkan mimpinya.”
Kikan terharu mendengarnya. Selama ini ia tak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya bila dibela seseorang.
“dasar bocah kurang ajar. Kau mau dihajar ya?” bentak kakek.
“saya tidak peduli. Kakek boleh menghajar saya sebagai pengganti Kikan. Asal kakek tidak memukulnya. Kikan menggeleng keras. Ia tidak mau kakek malah memukul Kikan.
“jangan, kek.” Seru Kikan. Mendorong Sam mundur. “Kikan tidak akan ikut lomba ini. Kikan akan pulang dengan kakek. Kikan menghapus air matanya. Ia merasakan gelombangkekecewaan yang teramat besar. Air matanya kembali menetes tak terkendali. Sekali lagi, ia menatap spanduk lomba. Kemudian masuk ke mobil kakek. Kakek terpana sesaat. Kemudian masuk mobil. Sam menatap Kikan yang terus menangis di dalam mobil.
“Kikan...!” kata Sam lirih. Sedan hitam itu mulai berjalan dan menghilang di balik tikungan. Meninggalkan Sam yang masih berdiri mematung menatap kertas-kertas yang bertebaran disana. Komik Kikan.
????
Kikan tengah melamun di kamarnya. Menatap kalender bergambar karikatur  Albert Einstein yang dibelikan kakek. Matanya tertuju pada tanggal 21 April. Hari ulang tahunnya. Ia tak pernah suka pesta. Jadi ia tak pernah serius mengingat hari ulang tahunnya. Biasanya hari itu akan berlalu begitu saja tanpa Kikan sadar kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya. Tapi kali ini tatapannya tidak bisa beralih dari tanggal itu. Kikan teringat gurauannya pada Sam. “kalau aku menang, itu akan jadi kado ulang tahun paling hebat untukku. Aku mungkin tak akan diizinkan ikut pelatihan oleh kakek. Tapi setidaknya aku tahu aku bisa menang dan mengalahkan ribuan peserta.
“Kau mungkin bisa mengalahkan ribuan peserta, tapi kau tak akan bisa mengalahkanku.” Sahut Sam. Senyum jail menghiasi wajahnya. Kikan meninju bahunya.
Air mata Kikan meleleh lagi. Sudah berhari-hari Kikan menagis dan mengurung diri di kamar. Ia belajar gila-gilaan untuk mengalihkan pikiran. Entah sudah berapa ratus soal fisika yang ia kerjakan. Seandainya saja memberi pengertian pada kakek semudah menyelesaikan soal fisika. Seandainya saja ada rumus yang bisa meluluhkan hati kakek. Kikan kemudian teringat Sam. Sam membelanya mati-matian waktu itu. Kikan tak pernah menyadari pentingnya arti seorang Sam hingga saat itu. Sam rela dihajar kakek untuk menggantikannya.
Terdengar suara ketukan di pintu. Kikan tidak bergeming. Itu pasti kakek. Kikan tidak mau bertemu kakek. Sudah beberapa kali kakek mengetuk pintu kamarnya. Mulai dari dengan suara garang mengancam sampai suara lembut bernada membujuk seperti sekarang.
“Kikan, buka pintunya. Kau harus makan. Sudah beberapa hari kau tidak makan. Ini kakek bawakan nasi goreng kesukaanmu.” Suara kakek terdengar lembut di balik pintu. Kikan hanya mendengus. Ia tidak beranjas sesenti pun untuk membukakan pintu. Kakek terus mengetuk.
“kakek minta maaf. Sudah memaksamu terus dan terus belajar. Tapi semua itu untuk kebaikanmu. Kau harus berhasil. Kau harus punya masa depan yang jelas dan cerah. Sekarang, kau boleh marah atau benci pada kakek, tapi suatu saat kau akan mengerti.”
Tidak. Kikan tidak mau mengerti. Apa gunanya punya masa depan cerah, kalau ia tidak bisa bahagia? Tidak bisa mencintai apa yang dia kerjakan? Air mata Kikan kembali membanjir. Ia sesegukan tak terkendali. Seandainya ibu dan atahnya masih ada, ia pasti akan memeluk mereka dan menangis sepuasnya di pangkuan mereka.
????
Tengah malam Kikan terbangun dari tidurnya. Ia menatap cermin dan melihat matanya luar biasa merah. Kikan ngeri sendiri memandang tampangnya yang ebrantakan. Ia meraih gelas di atas meja. Ternyata gelasnya sudah kosong. Kikan pun keluar dari kamar. Berharap tidak berpapasan dengan kakek.di sofa depan kamarnya Kikan terkejut mandapati kakeknya tengah tertidu tanpa selimut. Didepannya ada nasi goreng yang sudah dingin. Rupanya kakek meunggunya sedari tadi. Berharap Kikan mau keluar dan makan. Kikan memandangi wajah keriput kakek dan pikirannya melayang ke hari pemakaman orangtuanya. Kakek tidak mengizinkan Kikan ikut ke pemakaman. Waktu itu Kikan protes sambil membanting-banting segala benda di kamarnya ke pintu yang dikunci kakek. Belakangan Kikan tahu alasan kakek melarangnya. kakek tidak ingin Kikan bertambah sedih melihat jasad orangtuanya yang harus ditimbun tanah. Kikan kembali menatap nasi bertabur keju di meja. Apa iya Kikan yang egosi dan tidak pernah menghargai segala usaha kakek untuk mempersiapkan masa depan yang cerah untuknya? Kakek bergerak dalam tidurnya dan Kikan mendadak merasakan betapa lelahnya kakek selama ini. menjadi segalanya untuk Kikan. Ayah, ibu, sekaligus guru.
????
Kado ulang tahun Kikan memang luar biasa tahun ini.  bukan menjadi juara lomba mengarang komik. Tentu saja bukan. Tapi ia mendapat tawaran beasiswa dari universitas Oxford untuk melanjutkan SMU hingga perguruan tinggi disana. Nilai olimpiade MIPA-nya yang sempurna, juga catatan prestasinya yang gilang gemilang membuat pihak universitas memutuskan tidak perlu menunggunya tamat SMU untuk memmberinya beasiswa. Kikan sebetulnya tidak terlalu senang. Tapi inilah pertama kalinya ia melihat kakeknya yang biasa keras menangis haru dan memeluknya dengan bangga. Kakek pasti bahagia sekali. Kikan bisa merasakannya. Setelah perpisahan dengan teman-teman dan gurunya, Kikan diantar kakek menuju bandara. Kikan kecewa karena tidak melihat Sam.anak-anak kelas 12 telah selesai ujian. Tentu saja banyak dari mereka memilih tidak masuk sekolah. Sam mungkin salah satunya.
Guru-guru menatapnya dengan bangga. Bahkan Bu Asti yang selalu melotot galak padanya di perpustakaan memeluknya dengan mata berkaca-kaca. Kikan tiba di bandara setengah jam kemudian. Rupanya ini saat dimana ia harus mengcapkan selamat tinggal pada Indonesia. Pada mimpinya. Pada Sam. Saat memikirkan Sam, sayup-sayup Kikan seperti mendengar suara sam. Kikan berpaling menyaksikan orang yang berlalu lalang di bandara, tapi sam tak ada disana.
“Kikan, tunggu disini.” Kata Kakek. Kikan mengangguk. Kikan mennghela napas yang rasanya seperti menghela gunung.
“Kikan...!” seruan ilusi di kepalanya kembali terdengar. Kikan menggeleng. Khayalannya sudah keterlaluan.
“heeiii, Nona profesor...!” seruan itu terdengar lebih lantang. Dan itu bukan ilusi. Hanya satu orang yang pernah memanggilnya seperti itu. Sam tampak berlari dari ujung bandara. Menenteng sesuatu seperti piala. Wajahnya luar biasa tampan dari kejauhan.
“Kikan, selamat ulang tahun.” Serunya. Sam emnyodorkan piala indah itu pada Kikan. Kikan mengenali piala itu dari brosur pemberian Sam.
“kau menang?” pekik Kikan. “kau menang lomba komik itu? Kau hebat. Kikan merangkul Sam. Kikan segera melepaskan rangkulannya. Wajah Sam tampak merah menyala.
“kau yang menang.” Kata sam agak kikuk.
“eh?”
“kau ingat komikmu yang bertebaran di jalan?. Aku mengikutkannya lomba atas namaku. Kau lihat? Kau bisa melakukannya. mengalahkan ribuan peserta. Kikan terpana. Bukan pada kenyataan bahwa komiknya menang, tapi pada apa yang dilakukan Sam.
“kau bisa tunjukkan ini pada kakekmu. Sam memandang berkeliling, mencari keberadaan kakek Kikan.
“kakek sedang mengurus sesuatu.” Kata Kikan.
“oke. Kau bisa bilang padanya, kau bisa punya masa depan dengan menjadi komikus. Kikan memandang sorot mata Sam yang membara. Kikan menggeleng.
“tapi kakekku tidak akan bahagia.”
“eh?” sam memandang Kikan heran.
“aku bisa saja jadi orang terkaya di dunia dengan menjadi komikus. Tapi kakekku tak akan bahagia. Kakek ingin aku kuliah di Oxford dan menjadi dokter. Maka itu yang akan kulakukuan.”
Entah apa yang menggerakkan hatinya, tapi Kikan tahu itulah hal yang benar. Ia akan mendahulukan kebahagiaan kakeknya. satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.
“tapi kau tidak akan bahagia.” Bantah Sam.
“nanti.”
“nanti aku akan bahagia. Setelah membahagiakan kakek, akan kukejar kebahagiaanku sendiri.” Kikan tak percaya ia bisa mengatakan hal itu. Tapi sorot mata Sam yang membara membakar tekadnya.
“aku akan menemukanmu.” Kata Sam.kikan memandangnya heran.
“nanti. Di masa depan, ketika kau memutuskan untuk mencari kebahagiaanmu, aku pasti akan menemukanmu.” Kata Sam. Senyum Kikan mengembang. Dan kali ini ia tahu apa yang akan diungkapkan Sam bahkan sebelum Sam mengatakannya.
“kita akan saling menemukan.” Jawab Kikan.
Ia berjalan menghampiri kakek yang telah menantinya di tangga pesawat. Beberapa saat kemudian, pesawat mengangkasa. Kikan memandangi bandara Soekarno-hatta dari ketinggian. Memandangi orang-orang yang berseliweran di bawah sana. Yang mungkin salah satunya adalah Sam. Teman pertamanya. Sahabatnya. Orang yang mencintainya.Kikan akan menepati janjinya pada Sam. Sejauh apapun ia pergi, suatu saat ia akan kembali dan mencari kebahagiaannya itu.
@The End?




cerpen
Mimpi jingga
“anak pincang mana bisa jadi pengibar bendera...weeeee!” seru Kadita sambil memonyongkan bibirnya. Mencibir penuh penghinaan pada Jingga. Jingga yang sedari tadi sedang sibuk bercerita tentang mimpinya kesal setengah mati. Kalau saja ia anak yang sedikit lebih berani, ia sudah pasti akan menghampiri Kadita dan  dua antek-anteknya itu untuk memberinya pelajaran. Minimal melayangkan jotosan ke mulut yang akan membuatnya bungkam. Sari teman sebangkunya Cuma bisa menatap iba padanya. Mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi menghadapi Kadita yang sangat populer di sekolah dengan segudang prestsinya.
Tadi tak sengaja Kadita yang bertubuh tinggi langsing itu mendengar pembicaraan Jingga dan Sari. Jingga ingin sekali menjadi pengibar bendera saat acara tujuh belasan nanti. Ia ingin membuat kakeknya yang seorang veteran pejuang ’45 bangga. Selama ini, kakek tak punya apapun untuk dibanggakan. Orang-orang hanya mengenang dan menghormatinya menjelang peringatan tujuh belas agustus. Selepas itu, ia ditinggalkan dan dilupakan. Di usia senjanya, kakek yang dulu berjuang sekuat tenaga bertaruh nyawa untuk mengantarkan negara ini menuju kemerdekaan tak punya apa-apa selain sepetak kebun kecil di belakang rumah yang menjadi sandaran hidup kakek dan Jingga.
Jingga telah ikut kakek sejak kecil. Semenjak ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan pabrik dan ibunya terpaksa menjadi seorang TKW ke Arab Saudi. Kakek orang yang penuh kebanggaan pada bangsanya. Terlepas dari kenyataan bahwa negara yang ia cintai mati-matian cenderung melupakannya dan perjuangannya. Kakek sama sekali tak mempermasalahkannya. ia tetap bangga dan cinta pada negaranya dengan sepenuh jiwa dan raga. Matanya selalu berkaca-kaca setiap kali menyaksikan upacara pengibaran bendera di televisi. Kakek yang seminggu lagi genap berusia 80 tahun itu selalu mengambil sikap sempurna. Berdiri tegap dengan tangan terangkat ketika layar televisi 14 inci mereka yang gambarnya sudah dipenuhi semut menayangkan detik-detik bendera naik. Kakek tak pernah mengeluh.
 Ia tak pernah mengungkit-ungkit perjuangannya pada orang lain. Hanya pada Jingga, cucu satu-satunya kakek menceritakan kisah-kisah seru perjuangannya bersama teman-temannya menembus hutan kalimantan, menghadang konvoi mobil – mobil belanda berbekal senjata seadanya. Jingga terdiam acapkali kakek mulai bercerita. Kakek sangat pandai bercerita. Penuh penghayatan. Cerita-cerita kakek selalu diakhiri dengan bagaimana para pejuang akan mengangkat bendera tinggi-tinggi ketika berhasil menumbangkan para pasukan kompeni.
Jingga ingin sekali membuat kakek bahagia. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Sampai ia tahu bahwa keinginan terbesar kakek adalah melihat cucunya mengenakan seragam putih-putih, berpeci hitam legam dan berdiri tegap mengibarkan bendera.
Jingga kini tahu apa harapan terbesar kakeknya. tapi ia tahu harapan itu tidak akan pernah terwujud. Tak akan pernah ada yang memilihnya sebagai pengibar bendera dengan kaki pincangnya. Bahkan tidak upacara bendera di sekolah. Mungkin Kadita memang benar. Tapi Jingga tak ingin menyerah.
“coba tanya dulu sama Bu Asti.” Saran Sari sahabatnya. Memintanya untuk tetap bersemangat dengan mimpinya menjadi pengibar bendera. Jingga menuruti saran Sari.dengan wajah tak bisa ditebak, Bu Asti hanya tersenyum samar. “kamu boleh jadi pengibar bendera sekolah dia acara tujuh belasan nanti kalau bisa dapat nilai seratus di semua ulangan. Jingga melongo. Waduh. Syaratnya kok berat sekali. Mana bisa ia dapat seratus di semua ulangan?. Memangya dia Albert Einstein. Tapi ia harus berusaha. Jingga kemudian belajar mati-matian siang-malam, menghafalkan semua pelajaran sampai matanya merah kurang tidur.
Dan hasilnya sungguh diluar dugaan. Ia mendapat nilai seratus di lima mata pelajaran pokok. Hal yang belum pernah dicapainya. Kakek pasti akan melihatnya menjadi pengibar bendera. Ia mendatangi Bu Asti. Wali kelasnya itu kembali hanya tersenyum samar.
“kamu bisa menyanyi? Tanya bu asti. Jingga hanya menggeleng.
“sayangnya itu salah satu syaratnya.” Jingga kembali melongo. Syarat lagi? Bukannya syarat nilai seratus itu sudah cukup? Ia sudah nyaris pingsan kelelahan mengejar nilai itu. Masa itu belum cukup juga.
“kamu harus dapat nilai sempurna di praktek kesenian. Prakteknya menyanyikan lagu wajib. Jingga nyaris protes lagi. Itu mustahil. Seumur-umur jingga tak pernah dapat nilai bagus saat praktek menyanyi. Jingga ingin sekali berteriak dalam hati. IA TIDAK BISA NYANYIIIIII!!!!.
Dua hari lagi praktek kesenian diadakan. Jingga yang memilih lagu indonesia pusaka berlatih tanpa henti. Semua pekerjaan rumah seperti cuci piring, merapikan kamar, membuat kopi untuk kakek ia lakukan sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara tak keruan.
Ia juga belajar menyanyi pada pelatih paduan suara, tetangga sebelah rumah sari dengan imbalan mencuci piring di restoran milik beliau selama seminggu penuh. Piring yang harus dicucinya seusai latihan seabrek-abrek banyaknya, membuat jingga pulang ke rumah reyotnya dengan tubuh serasa rontok. Tapi tak apa. Pikirnya. Semua keletihanya akan dibayar dengan senyum bangga kakek melihatnya menjadi pengibar bendera.
Hari praktek kesenian tiba. Dengan jantung berdegup tak keruan dan mata setengah mengantuk akibat tak tidur semalaman untuk latihan menyanyi jingga maju ke depan kelas dan mengingat-ingat semua pelajaran menyanyinya. Usai bernyanyi, tanpa diduga semua teman-temannya bertepuk tangan riuh. Ia tersenyum penuh kemenangan. Merah putih, tunggu aku. Soraknya dalam hati.
Pulang sekolah ia berlari kencang meuju kebun. Mencari kakek. Mengabarkan berita gembira itu. Kakek memeluknya penuh haru. Bahkan pandangan berkaca-kaca yang hanya terlihat saat kakek meonton upacara bendera di televisi tampak jelas di kedua pelupuk matanya. Kakek bahagia. Jingga berhasil. Mimpinya untuk membuat kakek bahagia akhirnya terwujud.
Seminggu berlalu penuh keriangan. Jingga tak sabar menanti acara peringatan tujuh belas agustusan. Kakek telah membelikannya sarung tangan dan peci hitam baru. Jingga akan memakainya saat menjadi pengibar bendera nanti.
Siang itu, sehari sebelum tanggak 17 agustus, Bu Asti memanggilnya. Kali ini tak tampak senyum samar di kedua mata beliau.
“jingga, maafkan ibu...ibu harus terus terang.” Jingga menatap gurunya tak mengerti. _kenapa ibu minta maaf.
“ibu bangga padamu. Sangat. Kamu telah memenuhi semua syarat yang ibu ajukan untuk menjadi pengibar bendera.”
“tapi maaf. Kamu tetap tidak bisa menjadi pengibar bendera. Pak kepala sekolah tidak mengizinkannya....!”
JEDERRRRR. Kabar itu bak petir yang meruntuhkan semua impiannya. Kenapa? Batinnnya. Karena ia pincang? Tapi bagaimana dengan semua usahanya untuk mendapatkan nilai seratus dan latihan menyanyinya ? apakah itu sama sekali tak berari?. Jingga terisak.
Kakek hanya tersenyum padanya mendengar hal itu. Merangkulnya yang masih terus sesegukan.
“kakek sudah bangga padamu. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga. Kakek lihat itu!” kata kakek. Peghiburan kakek membuat tangis jingga makin keras.
Jingga bolos sekolah pada saat sekolahnya mengadakan upacara 17 agustusan. Ia memilih menemani kakek menyemai bibit jagung di kebun.
Ssari datang menemuinya usai upacara bendera. Memberinya kejutan dengan memberikan bendera merah putih yang dijahitkan ibunya. Sari punya ide. Mereka akan mengadakan upacara bendera di kebun jagung sempit milik kakek. Jingga setuju. Bertiga dengan kakek dan sari mereka mengibarkan bendera merah putih. Dengan langkah terpincang-pincang jingga meneriakkan aba-aba dengan nyaring. Mengundang perhatian orang-orang sekitar yang lantas bergerombol menonton. Langkah tegap mereka yang teredam tanah kebun terarah lurus pada tiang dari kayu bekas pagar yang tak terlalu tinggi.
Dengan lantang jingga menyanyikan lagu Indonesia raya sembari menarik bendera agar sampai ke puncak kayu yang ditancapkan kakek di tengah kebun.  Tiba-tiba koor lagu indonesia raya bergema nyaring dari arah barat. Jingga berpaling dan matanya memandang wajah-wajah teman-temannya yang di giring bu asti ke tengah kebun. Mereka bernyanyi dengan lantang. Beberapa ada yang bahkan menangis.
Jingga juga ikut menangis. Meskipun sederhana. Meskipun di tengah kebun sempit. Meskipun hanya di kayu bekas pagar yang ujungnya terbakar. Ia telah mewujudkan mimpi kakek. Juga mimpinya untuk membuat kakek bangga.