MIMPI SEPASANG MERPATI
“AWAS..!” Seru
seseorang yang terdengar tidak familier di telinga Kikan. Suaranya terdengar
jelas di tengah hingar bingar kerusuhan. Kikan tidak berani menoleh untuk
melihat. Mungkin saja seruan itu tak ditujukan untuknya. Mungkin 2 kelompok
remaja brutal yang sedang adu kekuasaan itu yang meneriakkan kata awas untuk
saling mengancam.
Naskahnya. Kikan teringat sesuatu
dan dengan panik mencari-cari di sekelilingnya. Apa yang dilihatnya nyaris
membuatnya menjerit histeris. Naskah komiknya terserak di jalanan dan
terinjak-injak. Kalau saja ia kuat, ingin rasanya ia menghajar anak-anak SMA
yang tengah tawuran itu. Kikan merutuki nasibnya yang sial karena bisa-bisanya
berjalan di jalanan yang sedang di booking untuk tawuran. Belum lagi naskah
komiknya yang sekarang sudah persis bungkus nasi bekas. Padahal Kikan sudah
nyaris seminggu begadang menyelesaikan komik itu. Belum lagi, ia harus
sembunyi-sembunyi membuatnya. Kakeknya akan marah besar, kalau tahu Kikan
menulis komik. Kakeknya tak pernah merestui cita-citanya untuk jadi komikus.
Kakek ingin Kikan menjadi dokter yang hebat. Karena itu, sejak kecil kakek
mengawasinya dengan ketat. Kakek ingin memastikan bahwa Kikan serius dengan
sekolahnya. Mendapat nilai-nilai tinggi, meraih peringkat satu abadi di sekolah
dan memenagkan banyak olimpiade. Kakek menerapkan jadwal belajar di rumah yang
menurut Kikan agak konyol. Dari jam lima sore sampai jam 8 malam, Kikan tak
boleh melakukan hal lain selain belajar. Kikan sudah melakukan semuanya. Sudah
belajar semaksimal mungkin. Jungkir balik menghafalkan rumus fisika dan tabel
kimia. Tapi kakek selalu merasa usahanya kurang. Kakek selalu memaksanya
berkutat dengan Sains setiap detik. Kakek ingin Kikan seperti almarhum ayahnya. Seorang dokter spesialis
jantung terkenal, lulusan Universitas Oxford.
Sebuah belati nyaris saja
menyasarnya kalau saja tak ada tangan kekar yang menariknya mundur dari lautan
anak-anak SMA beringas itu.
“komikku...!“ jerit Kikan
berusaha melepaskan diri.
“apa kau gila? Kau tidak melihat
mereka membawa senjata? Kau bisa mati konyol kena senjata nyasar!” Omel orang
yang tadi menolongnya. Kikan berpaling heran melihat orang asing memarahinya.
Ternyata ia seorang pemuda berseragam SMA yang sekepala lebih tinggi darinya.
Ia masih memegangi lengan atas Kikan. Belum sempat Kikan melepaskan diri,
sebuah tongkat besi melayang ke arahnya. Pemuda itu memaksanya menundukkan
kepala Kikan tepat sebelum tongkat itu menghajar wajahnya.
“BUKK...!” Tongkat yang gagal
pengenainya menghantam punggung pemuda yang menolongnya. Bunyi hantamannya
membuat Kikan ngilu. Pasti rasanya sakit sekali.
“pergi dari sini. Cepat!”
perintahnya mendorong Kikan menjauh ke trotoar. Kikan menggeleng panik. Pergi?
Bagaimana dengan komikya?
“tidak mau. Aku harus mengambil
komikku.” Kata Kikan. Kikan berdiri, pemuda itu menghadangnya.
“sudah kubilang jangan!”
bentaknya. “sana pulang!”
Kikan merengur kesal. Ia
memandang galak pemuda itu dan pandangannya tertuju pada Emblem sekolah di bahu
kirinya. SMA Garuda Jaya. Sekolah Kikan. Awas saja mereka. Batin Kikan. Ia pun
menjauh dari arena perkelahian. Ketika menoleh lagi, pemuda yang tadi
menolongnya sudah hilang. Mungkin langsung ikut meramaikan pesta tawuran itu.
Kikan mengeluarka Hp-nya dan menelepon seseorang.
????
Keesokan harinya Kikan melihat
belasan anak kelas 3 tengah di jemur di lapangan upacara. Pak Wawan, guru
Bp-nya tengah menguliahi ,mereka soal betapa tak pentingnya tawuran. Kikan
menruskan langkah menuju kelasnya melewati lapangan upacara. Ia melihat ke arah
kakak-kakak kelasnya yang dihukum. Rasakan. Batin Kikan kesal. Kemarin Kikan
menelepon Pak Wawan dan mengadukan kalau anak-anak SMA Garuda Jaya terlibat
tawuran. Di barisan paling ujung kiri Kikan mengenali seseorang. Pemuda itu
nyengir ke arahnya. Pemuda yang menolong sekaligus memarahinya kemarin. Kikan
mendengus kesal, kemudian setengah berlari menuju kelasnya.
????
Lonceng istirahat berdentang.
Teman-teman sekelas Kikan berhamburan keluar kelas. Tapi di pintu kelas mereka
berhenti. Sebagian malah menjauh dari pintu karena gugup. Yang perempuan bisik-bisik
sambil memandang Kikan.
“Kikan, ada yang mencarimy.” Kata
katon. Ketua kelas Kikan. Kikan mengangkat alis heran. Siapa sih yang
mencarinya, sampai-sampai teman-temannya bertampang seperti baru saja melihat
setan begitu. Kikan keluar. Oh, ternyata mereka memang baru saja melihat setan.
Batin Kikan kesal sambil memelototi pemuda di hadapannya. Setan berwujud
makhluk berandal paling ditakuti seantero sekolah.
“hai. Sapanya. Kikan diam saja.
“jangan bertampang begitu!”
katanya. Ia menyodorkan setunpuk kertas pada Kikan. Kikan mengambilnya dengan
ragu. Ia mengamati kertas itu dan langsung girangs etengah mati.
“komikku!” pekik Kikan. Ia
refleks merangkul pemuda berandal tampan itu. Kikan langsung buru-buru melepas
rangkulannya ketika teman-temannya ber-ciee-ciee ria. Wajahnya langsung merah
padam dan Kikan menunduk malu sambuil memandangi komiknya. Kikan tak percaya.
Gambar-gambarnya persis miliknya. Tertulis dengan pensil di atas kertas HVS
putih bersih, tanpa bekas terinjak atau secuil pun noda tanah. Kok bisa?
“ya. Itu komikmu. Jadi sekarang
kau nisa berhenti memasang wajah
cemberut setiap kali melihatku.
Ia kembali nyengir. “oh, ya.
Namaku Samuel. Kau Kikan ‘kan?” pemuda bernama Samuel itu langsung ngacir
sebelum Kikan sempat mengucapkan terimakasih.
????
“jadi kau memunguti semua
lembaran naskah komukku dan menggambarnya ulang?” tanya Kikan tak percaya,
ketika sam menjelaskanbagaimana komik yang sudah diinjak-injak remaja bengal
waktu terlibat tawuran itu bisa berubah jadi baru lagi. Sam hanya mengangkat
bahu. Sudah seminggu sejak sam datang ke kelasnya dan mengantarkan komik itu.
Kikan lumayan sering ngobrol dengan sam sekarang. Awalnya ia agak takut pada
pemuda berangasan itu. Tapi ternyata samlumayan baik. Sebaik yang bisa
dilakukan seorang preman sekolah tukang tawuran. Sam juga ternyata jago membuat
komik. Hobi yang samamembuat mereka bisa berteman akrab. Kikan dan seringkali
membahas komik bersama. Kalau Kikan mendapat ide untuk membuat komik ia akan
mecari Sam. Mereka lalu bergegas ke ruang perpustakaan sambil menenteng
setumpuk kertas HVS dan mulai mereka-reka kisah komik agar menjadi seru.
Kadang-kadang Kikan sebal pada Sam, kalau Sam terlalu banyak menambahkan adegan
action dalam komik mereka.
“dasar berandal tukan tawuran!”
bentak Kikan kesal. Membuat Bu Asti, petugas perpustakaan melotot ke arahnya.
Kikan terpaksa meendahkan suaranya. “masa setiap lembar harus diisi dengan
adegan action? Di awal cerita si tokoh sudah berkelahi dengan pria berotot. Eh,
sekarang malah,,apa ini? menggebuk pasukan musuh dengan tongkat? Kau mau bikin
tokoh jagoan atau tukang pukul bayaran?” Kikan mencerocor, sementara Sam hanya
bisa menganga.
“komik tanpa adegan action mana
seru?” bantah Sam.
“iya. Tahu. Tapi harus nyambung
sama ceritanya dong.
“Oke.oke, Non. Maaf.” Kata sam
mengalah.
Mendengar nada kalah dalam suara
Sam, Kikan jadi tenang.
“kenapa sih kau suka adegan
action? Apa ada hubungannya dengan hobi tawuran mu? Memang apa asyiknya
tawuran? Kau hanya akan dapat dua hal dari tawuran, babak belur atau kena
skors. Sam terbahak mendengar komentar Kikan. Bu asti melotot lebih galak lagi.
Anak-anak lain yang sedang asyik membaca menyuarakan husss serentak. “maaf!”
kata sam sambil garuk-garuk kepala. Kikan terpaksa membekap mulit menahan tawa.
Ekspresi Sam tampang lucu sekali.
“yah, menurutku hebat saja. Kalau
kau bisa berkelahi dan mengalahkan orang lain. Menikmati masa muda. Selagi tak
punya beban yang harus kupikirkan sepanjang waktu. Toh, aku tak punya kegiatan
lain yang butuh energi dan konsentrasi ekstra.” Jawab Sam santai.
“kau bisa belajar. Kau ‘kan
sebentar lagi ujian.” Kata Kikan tiba-tiba. Sam menoleh ke arahnya.
“kupikir kau tak akan pernah
ingat kalau aku ini kakak kelasmu. Kau tidak pernah memanggilku kakak seperti
adik kelas normal lainnya. Dan untuk ukuran adik kelas, kau lumayan kurang
ajar.” Canda Sam.
“tidak asyik. Lebih mudah
menganggapmu teman daripada kakak kelas. Aku jadi canggung kalau harus
menyebutmu kakak.” Jadi sampai dimana kita tadi? Kata Kikan tidak ingin
topiknya dibelokkan.
“kau menyuruhku belajar. Haha.
Dengar, Non. Aku bukan jenius dan pakar olimpiade sepertimu. Aku tak betah
kalau harus duduk berjam-jam untuk belajar. Lebih baik aku membuat satu rim
komik daripada harus membuat kepalaku mendidih menghafalkan rumus yang ngerti
pun aku tidak.” Jawab Sam. “memangnya orangtuamu tidak pernah memaksaku
belajar? Beruntung sekali.
“oh, mereka menyuruhkus sesekali.
Tapi selama aku naik kelas dengan nilai cukup, mereka tak akan banyak komentar.
Kikan merasa iri pada Sam. Kalau boleh memilih, ia juga ingin seperti sam.
Remaja biasa yang bisa melakukan hal apapun sesukanya. Tidak harus mematuhi jam
belajar konyol kakek yang nyaris menyita semua waktunya. Ia juga ingin sejenak
melupakan matematika dan sains lalu membuat komik yang superseru.. Mengarang
alur cerita, menggambar tokoh favoritnya. Komik selalu membuat Kikan bersemangat.
Ia bercita-cita kelak akan menjadi penulis komik hebat sekaliber Masashi
Kisimoto atau Fujiko F. Fujio.
“beruntung sekali.”komentar Kikan.
“orangtuamu tidak pernah
menyuruh-nyuruhmu melakukan sesuatu sekehendak hati mereka. Memaksamu belajar
hinggga otakmu meleleh. Ia meletakkan pensil dengan murung.
“memangnya orangtuamu begitu?
Tanya Sam. Ia memandang Kikan dengantatapan penasaran.
“orangtuaku sudah meninggal.
Kecelakaan pesawat waktu umurku lima tahun. Sejak itu, aku dirawat kakek. Kakek
selalu menyuruhku belajar dengans seriur. Beliau ingin aku menjadi anak jenius,
masuk universitas Oxford, kemudian menjadi dokter seperti ayahku. Kakek tidak
suka aku membuat komik. Menurutnya komi itu tak ada gunanya.Buang-buang waktu
dan tidak bisa menjamin masa depan.”Kikan tertunduk sedih.
“memangnya kau serius ingin jadi
komikus? Kupikir kau hanya iseng.” Sahut Sam enteng.
Kikan memutar bola mata. “iseng?
Hei. Aku tak pernah melaukan sesuatu hanya karena iseng. Aku serius. Aku ingin
menjadi komikus indonesia yang karyanya terkenal sampai ke seluruh dunia. Aku
ingin karyaku disukai semua orang. Seperti
Masashi Kisimoto.
“pengarang komik Naruto?” potong
sam.
Kikan mengangguk antusias.
“haha, sepertinya menarik. Kalau
begitu aku juga ingin jadi komikus.” Kata Sam
“horee!”pekik Kikan senang.
“kapan-kapan kita bisa berduet bikin komik. Komik paling terkenal di dunia.”
Sambung Kikan berapi-api.
“Boleh saja. Asal kau tidak
mengkritikku terus-mnerus.”
Kikan merengut.”baik.” jawab
Kikan kemudian. “Asal adegan actionnya masuk akal”. Sam tertawa dan mau tak mau
Kikan ikut tertawa.
????
Waktu berlalu dengan cepat.
Seperti tak lagi terasa perputarannya. Dan untuk Kikan yang labih banyak
menghabiskan waktu dengan berkurung di kamar dan melahap buku-buku sains yang
dibelikan kakek, tentu waktu seakan tak berarti. Tanpa terasa bulan telah
beralih, dari Maret ke April. Sebentar lagi sam akan menghadapi ujian nasional.
Kikan berhasil memaksanya berjanji untuk serius belajar dan lulus dengan baik.
Dan itu membuat Sam sibuk. Waktu istirahat, Sam selalu mengerjakan tugas dengan
teman-teman sekelasnya, sementara saat pulang sekolah, Sam ikut bimbingan
belajar wajib yang diadakan pihak sekolah. Kikan jadi jarang melihatnya. Kikan
merasa agak kesepian. Sam adalah partnet yang asyik untuk diajak membuat komik.
Kikan si jenius yang tak pernah benar-benar punya teman akrab seperti anak-anak
lain yang punya sahabat, punya genk, merasa Sam bena-benar temannya. Umumnya
teman-teman sekelas Kikan menjaga jarak dengan Kikan. Entah kenapa.
Siang itu, pulang sekolah, Kikan
terpaksa jalan kaki sendiri. Kakek yang biasamenjemputnya sedang ada rapat di
rumah sakit. Kakek Kikan adalah dokter Kepala Rumah Sakit Bakti Sentosa.
“Kikan, Hei...Kikan!” seru
seseorang. Kikan berpaling dan melihat Sam berlari-lari ke arahnya. Bukannya
Sam ada bimbingan belajar? Batin Kikan.
“apa yang kau lakukan disini? Kau
tidak ikut Bimbel?” tanya Kikan setelah Sam sampai di hadapannya.
“aku bolos!” Kata Sam enteng.
“apa? Tapi kau ‘kan sudah janji?”
protes Kikan kesal.
“astaga Kikan! Aku janji akan
serius belajar dan lulus. Seingatku aku tidakpernah janji untuk tidak akan
bolos bimbel.”
“Tapi ‘kan...
“oke. Oke. Nona Profesor,
sindirnya.” Kikan memukul lengan Sam dengan buku sains tebalnya.
“aku bolos, karena mencarimu. Aku
tidak bisa mencarimu selama pelajaran sekolah, teman-teman kelompokku akan
mencincangku kalau kalau aku tidak ikut persiapan ujian praktek.” Gerutunya.
“kenapa mencariku? Kangen, Ya?”
goda Kikan, maksudnya Cuma bercanda, tapi mendadak Sam jadi kikuk. Kikan
tertawa. Sam berusaha kembali bersikap biasa.
“Lihat.” Sam meyodorkan sebuah
brosur pada Kikan.
“apa ini?”
“lomba menulis komik. Tentu
saja.” Kata sam. Ia tersenyum lebar.
“kau tahu apa hadiahnya? Seru Sam
dengan bersemangat. “pelatihan menulis komik di jepang semala 1 tahun, lalu
kontrak penerbitan komik.
“benarkah?” kikan langsung girang
setengah mati. Ia bisa menerbitkan komik buatannya kalau menang.
“Sam,,,!” Seru seseorang dari
depan gerbang sekolah. Kikan memandang ke arah orang itu. Ternyata Pak Abdi.
Guru Fisikia kelas 12. Sam membelakak panik. “ya, sudah!” sepertinya aku batal
bolos.” Katanya miris.”bisa bisa aku dikunyah-kunyah pak Abdi. Baca brosurnya.
Minggu depan aku jemput jam 2 siang.” Kata Sam ia lalu berjalan dengan langkah
berat menuju Pak abdi. Guru Fisika bertubuh tambun itu tampakmenjewer telinga
Sam dan menyeretnya masuk ke ruang bimbbel. Kikan terkikik geli melihatnya.
Seminggu kenudian. Kikan berdiri
menunggu Sam didepan cafe. Ia memilih berdiri di luar karena tidak mau dikira
sedang kencan dengan Sam kalau ada teman-teman sekolahnya yang melihat.
Bisa-bisa geger satu sekolah. Kikan si kutu buku pacaran dengan Sam, berandalan
sekolah? Wow. Kikan yakin kakeknya bakal kena serangan jantung. Kakek tidak mau
Kikan bergaul dengan sembarang orang. Makanya Kikan tidak pernaha punya
teman akrab. Siapa sih yang mau, kalau
hal pertama yang dilakukan kakek ketka ada temannya yang main ke rumah adalah
menanyakan temannya itu anak siapa? Apa kerja ayahnya? Bagaimana prestasinya di
sekolah?.
“Hai!” sapa Sam yang muncul di
belakang Kikan. “sudah siap? Kikan mengangguk gugup. Baru kali ini naskah komik
di tasnya terasa berat. Dan perasaan gugup itu berubah mmenjadi ngeri melihat
melimpahnya jumlah peserta yang ikut. Ratusan? Bukan tapi ribuan. Berbondong-bondong mereka memasuki gedung tempaat lomba digelar.
“kau tidak bilang, kalau
pesertanya sebanyak ini.” kata Kikan. Sam memandangnya heran.
Astaga Kikan. Memangnya apa yang
kau harapkan?Cuma beberapa orang? Hadianya saja tinggal di jepang dan kontrak
terbit, yang tidak jago-jago amat membuat komik pun bakal tergiur.
“kalau begini mana mungkin aku
menang? Jerit Kikan histeris. Sam kembali melongo.
“oh, ayolah. Ini bukan olimpiade
Fisika. Tak ada yang memaksamu untuk menang. Santai saja.” Sam berusaha
menenangkan.
“kau benar. Ini bukan olimpiade.
Aku tak akan dimarahi kalau kalah.” Kikan tersenyum. Tapi senyumnya langsung
buyar, ketika melihat sebuah sedan hitam berhenti di depannya. Kikan meneguk
ludah panik. Kakeknya turun dari mobil.
“Kikan? Sedang apa kau disini?”
tanya kakek.
“anu..itu. eh..!” kikan berusaha
tidak terbata-bata. Kakek menolhe ke sekeliling dengan heran. Dan wajahnya
berubah merah padam melihat spanduk yang terpamppang di depan gedung. Lomba
Cipta Komik Nasional. Kikan menunduk ketakutan. Sam tidaktahu harus berbuat
apa.
“kau ikut lomba ini?” bentak
kakek. Sudah kakek bilang, kau tidak boleh lagi mengurusi komik. Fokus saja
pada pelajaranmu. Pikirkan olimpiademu.”
“kek, maafin Kikan. Tapi sekali
ini saja, kek. Izinkan Kikan ikut. Pliss kek. Setelah itu, kakek booleh
menghukum Kikan, menambah jam belajar Kikan. Apapun kek. Sam terbelakak mendengar Kikan mengucapkan tambahan jam
belajar. Kikan nyaris menangis. Naskah komik di tangannya di genggamnya
erat-erat.
“kau memang akan dihukum. Kau
tidak boleh lagi keluar rumah. Jam belajarmu akan ditambah, karena berani
beraninya melanggar larangan kakek.” Bentak kakek geram. Ia menarik tangan
Kikan hingga naskah komik di tangan Kikan bertebaran di sekeliling mereka.
Kakek menyeretnya masuk mobil. Kikan reflek mencengkeran tangan sam, menolak
masuk mobil.
“kakek jahat...!” seru Kikan
nyaring. Ia menyentakkan tangan kakek. Wajahnya bersimbah air mata. Kikan
mencengkeram tangan sam semakin erat.
“kakek tidak pernah mengerti
keinginan Kikan. Padahal selama ini Kikan selalu nurut apa kata kakek. Kikan
belajar mati-matian. Kikan jadi jaura kelas. Menang olimpiade, bahkan Kikan
tidak pernah melakukan hal lain selain belajar. Kikan tidak punya teman. Tapi
kakek tidak peduli ‘kan? Yang penting apa yang kakek inginkan. kake tidak
sayang pada Kikan. Kakek egois!”. Kakek membeliak kaget mendengar kata-kata
Kikan. Kakek mengangkat tangan bermaksud menampar cucunya. Tapi sam refleks
menahan tangan Kakek yang sudah terangkat ke udara. Kakek Kikan bertambah
murka.
“siapa dia? Pacarmu?” bentak
Kakek.
“Bukan. Sahut Sam lantang. “saya
sahabat Kikan. Tapi saya tidak akan membiarkan kakek menampar Kikan. Kasihani
dia kek. Dia hanya ingin mewujudkan mimpinya.”
Kikan terharu mendengarnya.
Selama ini ia tak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya bila dibela
seseorang.
“dasar bocah kurang ajar. Kau mau
dihajar ya?” bentak kakek.
“saya tidak peduli. Kakek boleh
menghajar saya sebagai pengganti Kikan. Asal kakek tidak memukulnya. Kikan
menggeleng keras. Ia tidak mau kakek malah memukul Kikan.
“jangan, kek.” Seru Kikan.
Mendorong Sam mundur. “Kikan tidak akan ikut lomba ini. Kikan akan pulang
dengan kakek. Kikan menghapus air matanya. Ia merasakan gelombangkekecewaan
yang teramat besar. Air matanya kembali menetes tak terkendali. Sekali lagi, ia
menatap spanduk lomba. Kemudian masuk ke mobil kakek. Kakek terpana sesaat.
Kemudian masuk mobil. Sam menatap Kikan yang terus menangis di dalam mobil.
“Kikan...!” kata Sam lirih. Sedan
hitam itu mulai berjalan dan menghilang di balik tikungan. Meninggalkan Sam
yang masih berdiri mematung menatap kertas-kertas yang bertebaran disana. Komik
Kikan.
????
Kikan tengah
melamun di kamarnya. Menatap kalender bergambar karikatur Albert Einstein yang dibelikan kakek. Matanya
tertuju pada tanggal 21 April. Hari ulang tahunnya. Ia tak pernah suka pesta.
Jadi ia tak pernah serius mengingat hari ulang tahunnya. Biasanya hari itu akan
berlalu begitu saja tanpa Kikan sadar kalau hari itu adalah hari ulang
tahunnya. Tapi kali ini tatapannya tidak bisa beralih dari tanggal itu. Kikan
teringat gurauannya pada Sam. “kalau aku menang, itu akan jadi kado ulang tahun
paling hebat untukku. Aku mungkin tak akan diizinkan ikut pelatihan oleh kakek.
Tapi setidaknya aku tahu aku bisa menang dan mengalahkan ribuan peserta.
“Kau mungkin
bisa mengalahkan ribuan peserta, tapi kau tak akan bisa mengalahkanku.” Sahut
Sam. Senyum jail menghiasi wajahnya. Kikan meninju bahunya.
Air mata Kikan
meleleh lagi. Sudah berhari-hari Kikan menagis dan mengurung diri di kamar. Ia
belajar gila-gilaan untuk mengalihkan pikiran. Entah sudah berapa ratus soal
fisika yang ia kerjakan. Seandainya saja memberi pengertian pada kakek semudah
menyelesaikan soal fisika. Seandainya saja ada rumus yang bisa meluluhkan hati
kakek. Kikan kemudian teringat Sam. Sam membelanya mati-matian waktu itu. Kikan
tak pernah menyadari pentingnya arti seorang Sam hingga saat itu. Sam rela
dihajar kakek untuk menggantikannya.
Terdengar
suara ketukan di pintu. Kikan tidak bergeming. Itu pasti kakek. Kikan tidak mau
bertemu kakek. Sudah beberapa kali kakek mengetuk pintu kamarnya. Mulai dari
dengan suara garang mengancam sampai suara lembut bernada membujuk seperti
sekarang.
“Kikan, buka
pintunya. Kau harus makan. Sudah beberapa hari kau tidak makan. Ini kakek
bawakan nasi goreng kesukaanmu.” Suara kakek terdengar lembut di balik pintu.
Kikan hanya mendengus. Ia tidak beranjas sesenti pun untuk membukakan pintu.
Kakek terus mengetuk.
“kakek minta
maaf. Sudah memaksamu terus dan terus belajar. Tapi semua itu untuk kebaikanmu.
Kau harus berhasil. Kau harus punya masa depan yang jelas dan cerah. Sekarang,
kau boleh marah atau benci pada kakek, tapi suatu saat kau akan mengerti.”
Tidak. Kikan
tidak mau mengerti. Apa gunanya punya masa depan cerah, kalau ia tidak bisa
bahagia? Tidak bisa mencintai apa yang dia kerjakan? Air mata Kikan kembali
membanjir. Ia sesegukan tak terkendali. Seandainya ibu dan atahnya masih ada,
ia pasti akan memeluk mereka dan menangis sepuasnya di pangkuan mereka.
????
Tengah malam Kikan terbangun dari
tidurnya. Ia menatap cermin dan melihat matanya luar biasa merah. Kikan ngeri
sendiri memandang tampangnya yang ebrantakan. Ia meraih gelas di atas meja.
Ternyata gelasnya sudah kosong. Kikan pun keluar dari kamar. Berharap tidak
berpapasan dengan kakek.di sofa depan kamarnya Kikan terkejut mandapati
kakeknya tengah tertidu tanpa selimut. Didepannya ada nasi goreng yang sudah
dingin. Rupanya kakek meunggunya sedari tadi. Berharap Kikan mau keluar dan
makan. Kikan memandangi wajah keriput kakek dan pikirannya melayang ke hari
pemakaman orangtuanya. Kakek tidak mengizinkan Kikan ikut ke pemakaman. Waktu itu
Kikan protes sambil membanting-banting segala benda di kamarnya ke pintu yang
dikunci kakek. Belakangan Kikan tahu alasan kakek melarangnya. kakek tidak
ingin Kikan bertambah sedih melihat jasad orangtuanya yang harus ditimbun
tanah. Kikan kembali menatap nasi bertabur keju di meja. Apa iya Kikan yang
egosi dan tidak pernah menghargai segala usaha kakek untuk mempersiapkan masa
depan yang cerah untuknya? Kakek bergerak dalam tidurnya dan Kikan mendadak
merasakan betapa lelahnya kakek selama ini. menjadi segalanya untuk Kikan.
Ayah, ibu, sekaligus guru.
????
Kado ulang tahun Kikan memang
luar biasa tahun ini. bukan menjadi
juara lomba mengarang komik. Tentu saja bukan. Tapi ia mendapat tawaran
beasiswa dari universitas Oxford untuk melanjutkan SMU hingga perguruan tinggi
disana. Nilai olimpiade MIPA-nya yang sempurna, juga catatan prestasinya yang
gilang gemilang membuat pihak universitas memutuskan tidak perlu menunggunya
tamat SMU untuk memmberinya beasiswa. Kikan sebetulnya tidak terlalu senang.
Tapi inilah pertama kalinya ia melihat kakeknya yang biasa keras menangis haru
dan memeluknya dengan bangga. Kakek pasti bahagia sekali. Kikan bisa
merasakannya. Setelah perpisahan dengan teman-teman dan gurunya, Kikan diantar
kakek menuju bandara. Kikan kecewa karena tidak melihat Sam.anak-anak kelas 12
telah selesai ujian. Tentu saja banyak dari mereka memilih tidak masuk sekolah.
Sam mungkin salah satunya.
Guru-guru menatapnya dengan
bangga. Bahkan Bu Asti yang selalu melotot galak padanya di perpustakaan memeluknya
dengan mata berkaca-kaca. Kikan tiba di bandara setengah jam kemudian. Rupanya
ini saat dimana ia harus mengcapkan selamat tinggal pada Indonesia. Pada
mimpinya. Pada Sam. Saat memikirkan Sam, sayup-sayup Kikan seperti mendengar
suara sam. Kikan berpaling menyaksikan orang yang berlalu lalang di bandara,
tapi sam tak ada disana.
“Kikan, tunggu disini.” Kata
Kakek. Kikan mengangguk. Kikan mennghela napas yang rasanya seperti menghela
gunung.
“Kikan...!” seruan ilusi di
kepalanya kembali terdengar. Kikan menggeleng. Khayalannya sudah keterlaluan.
“heeiii, Nona profesor...!”
seruan itu terdengar lebih lantang. Dan itu bukan ilusi. Hanya satu orang yang
pernah memanggilnya seperti itu. Sam tampak berlari dari ujung bandara.
Menenteng sesuatu seperti piala. Wajahnya luar biasa tampan dari kejauhan.
“Kikan, selamat ulang tahun.”
Serunya. Sam emnyodorkan piala indah itu pada Kikan. Kikan mengenali piala itu
dari brosur pemberian Sam.
“kau menang?” pekik Kikan. “kau
menang lomba komik itu? Kau hebat. Kikan merangkul Sam. Kikan segera melepaskan
rangkulannya. Wajah Sam tampak merah menyala.
“kau yang menang.” Kata sam agak
kikuk.
“eh?”
“kau ingat komikmu yang
bertebaran di jalan?. Aku mengikutkannya lomba atas namaku. Kau lihat? Kau bisa
melakukannya. mengalahkan ribuan peserta. Kikan terpana. Bukan pada kenyataan
bahwa komiknya menang, tapi pada apa yang dilakukan Sam.
“kau bisa tunjukkan ini pada
kakekmu. Sam memandang berkeliling, mencari keberadaan kakek Kikan.
“kakek sedang mengurus sesuatu.”
Kata Kikan.
“oke. Kau bisa bilang padanya,
kau bisa punya masa depan dengan menjadi komikus. Kikan memandang sorot mata
Sam yang membara. Kikan menggeleng.
“tapi kakekku tidak akan
bahagia.”
“eh?” sam memandang Kikan heran.
“aku bisa saja jadi orang terkaya
di dunia dengan menjadi komikus. Tapi kakekku tak akan bahagia. Kakek ingin aku
kuliah di Oxford dan menjadi dokter. Maka itu yang akan kulakukuan.”
Entah apa yang menggerakkan
hatinya, tapi Kikan tahu itulah hal yang benar. Ia akan mendahulukan
kebahagiaan kakeknya. satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.
“tapi kau tidak akan bahagia.”
Bantah Sam.
“nanti.”
“nanti aku akan bahagia. Setelah
membahagiakan kakek, akan kukejar kebahagiaanku sendiri.” Kikan tak percaya ia
bisa mengatakan hal itu. Tapi sorot mata Sam yang membara membakar tekadnya.
“aku akan menemukanmu.” Kata
Sam.kikan memandangnya heran.
“nanti. Di masa depan, ketika kau
memutuskan untuk mencari kebahagiaanmu, aku pasti akan menemukanmu.” Kata Sam. Senyum
Kikan mengembang. Dan kali ini ia tahu apa yang akan diungkapkan Sam bahkan
sebelum Sam mengatakannya.
“kita akan saling menemukan.”
Jawab Kikan.
Ia berjalan menghampiri kakek
yang telah menantinya di tangga pesawat. Beberapa saat kemudian, pesawat
mengangkasa. Kikan memandangi bandara Soekarno-hatta dari ketinggian.
Memandangi orang-orang yang berseliweran di bawah sana. Yang mungkin salah
satunya adalah Sam. Teman pertamanya. Sahabatnya. Orang yang mencintainya.Kikan
akan menepati janjinya pada Sam. Sejauh apapun ia pergi, suatu saat ia akan
kembali dan mencari kebahagiaannya itu.
@The End?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar