cerpen
Mimpi
jingga
“anak
pincang mana bisa jadi pengibar bendera...weeeee!” seru Kadita sambil
memonyongkan bibirnya. Mencibir penuh penghinaan pada Jingga. Jingga yang
sedari tadi sedang sibuk bercerita tentang mimpinya kesal setengah mati. Kalau
saja ia anak yang sedikit lebih berani, ia sudah pasti akan menghampiri Kadita
dan dua antek-anteknya itu untuk
memberinya pelajaran. Minimal melayangkan jotosan ke mulut yang akan membuatnya
bungkam. Sari teman sebangkunya Cuma bisa menatap iba padanya. Mereka memang
tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi menghadapi Kadita yang sangat populer di
sekolah dengan segudang prestsinya.
Tadi
tak sengaja Kadita yang bertubuh tinggi langsing itu mendengar pembicaraan
Jingga dan Sari. Jingga ingin sekali menjadi pengibar bendera saat acara tujuh
belasan nanti. Ia ingin membuat kakeknya yang seorang veteran pejuang ’45
bangga. Selama ini, kakek tak punya apapun untuk dibanggakan. Orang-orang hanya
mengenang dan menghormatinya menjelang peringatan tujuh belas agustus. Selepas
itu, ia ditinggalkan dan dilupakan. Di usia senjanya, kakek yang dulu berjuang
sekuat tenaga bertaruh nyawa untuk mengantarkan negara ini menuju kemerdekaan
tak punya apa-apa selain sepetak kebun kecil di belakang rumah yang menjadi
sandaran hidup kakek dan Jingga.
Jingga
telah ikut kakek sejak kecil. Semenjak ayahnya meninggal dunia karena
kecelakaan pabrik dan ibunya terpaksa menjadi seorang TKW ke Arab Saudi. Kakek
orang yang penuh kebanggaan pada bangsanya. Terlepas dari kenyataan bahwa
negara yang ia cintai mati-matian cenderung melupakannya dan perjuangannya.
Kakek sama sekali tak mempermasalahkannya. ia tetap bangga dan cinta pada
negaranya dengan sepenuh jiwa dan raga. Matanya selalu berkaca-kaca setiap kali
menyaksikan upacara pengibaran bendera di televisi. Kakek yang seminggu lagi
genap berusia 80 tahun itu selalu mengambil sikap sempurna. Berdiri tegap
dengan tangan terangkat ketika layar televisi 14 inci mereka yang gambarnya
sudah dipenuhi semut menayangkan detik-detik bendera naik. Kakek tak pernah
mengeluh.
Ia tak pernah mengungkit-ungkit perjuangannya
pada orang lain. Hanya pada Jingga, cucu satu-satunya kakek menceritakan
kisah-kisah seru perjuangannya bersama teman-temannya menembus hutan
kalimantan, menghadang konvoi mobil – mobil belanda berbekal senjata seadanya.
Jingga terdiam acapkali kakek mulai bercerita. Kakek sangat pandai bercerita.
Penuh penghayatan. Cerita-cerita kakek selalu diakhiri dengan bagaimana para
pejuang akan mengangkat bendera tinggi-tinggi ketika berhasil menumbangkan para
pasukan kompeni.
Jingga
ingin sekali membuat kakek bahagia. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Sampai
ia tahu bahwa keinginan terbesar kakek adalah melihat cucunya mengenakan
seragam putih-putih, berpeci hitam legam dan berdiri tegap mengibarkan bendera.
Jingga
kini tahu apa harapan terbesar kakeknya. tapi ia tahu harapan itu tidak akan
pernah terwujud. Tak akan pernah ada yang memilihnya sebagai pengibar bendera
dengan kaki pincangnya. Bahkan tidak upacara bendera di sekolah. Mungkin Kadita
memang benar. Tapi Jingga tak ingin menyerah.
“coba
tanya dulu sama Bu Asti.” Saran Sari sahabatnya. Memintanya untuk tetap
bersemangat dengan mimpinya menjadi pengibar bendera. Jingga menuruti saran
Sari.dengan wajah tak bisa ditebak, Bu Asti hanya tersenyum samar. “kamu boleh
jadi pengibar bendera sekolah dia acara tujuh belasan nanti kalau bisa dapat
nilai seratus di semua ulangan. Jingga melongo. Waduh. Syaratnya kok berat
sekali. Mana bisa ia dapat seratus di semua ulangan?. Memangya dia Albert
Einstein. Tapi ia harus berusaha. Jingga kemudian belajar mati-matian
siang-malam, menghafalkan semua pelajaran sampai matanya merah kurang tidur.
Dan
hasilnya sungguh diluar dugaan. Ia mendapat nilai seratus di lima mata
pelajaran pokok. Hal yang belum pernah dicapainya. Kakek pasti akan melihatnya
menjadi pengibar bendera. Ia mendatangi Bu Asti. Wali kelasnya itu kembali
hanya tersenyum samar.
“kamu
bisa menyanyi? Tanya bu asti. Jingga hanya menggeleng.
“sayangnya
itu salah satu syaratnya.” Jingga kembali melongo. Syarat lagi? Bukannya syarat
nilai seratus itu sudah cukup? Ia sudah nyaris pingsan kelelahan mengejar nilai
itu. Masa itu belum cukup juga.
“kamu
harus dapat nilai sempurna di praktek kesenian. Prakteknya menyanyikan lagu
wajib. Jingga nyaris protes lagi. Itu mustahil. Seumur-umur jingga tak pernah
dapat nilai bagus saat praktek menyanyi. Jingga ingin sekali berteriak dalam
hati. IA TIDAK BISA NYANYIIIIII!!!!.
Dua
hari lagi praktek kesenian diadakan. Jingga yang memilih lagu indonesia pusaka
berlatih tanpa henti. Semua pekerjaan rumah seperti cuci piring, merapikan
kamar, membuat kopi untuk kakek ia lakukan sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara
tak keruan.
Ia
juga belajar menyanyi pada pelatih paduan suara, tetangga sebelah rumah sari
dengan imbalan mencuci piring di restoran milik beliau selama seminggu penuh.
Piring yang harus dicucinya seusai latihan seabrek-abrek banyaknya, membuat
jingga pulang ke rumah reyotnya dengan tubuh serasa rontok. Tapi tak apa.
Pikirnya. Semua keletihanya akan dibayar dengan senyum bangga kakek melihatnya
menjadi pengibar bendera.
Hari
praktek kesenian tiba. Dengan jantung berdegup tak keruan dan mata setengah
mengantuk akibat tak tidur semalaman untuk latihan menyanyi jingga maju ke
depan kelas dan mengingat-ingat semua pelajaran menyanyinya. Usai bernyanyi,
tanpa diduga semua teman-temannya bertepuk tangan riuh. Ia tersenyum penuh
kemenangan. Merah putih, tunggu aku. Soraknya dalam hati.
Pulang
sekolah ia berlari kencang meuju kebun. Mencari kakek. Mengabarkan berita
gembira itu. Kakek memeluknya penuh haru. Bahkan pandangan berkaca-kaca yang
hanya terlihat saat kakek meonton upacara bendera di televisi tampak jelas di
kedua pelupuk matanya. Kakek bahagia. Jingga berhasil. Mimpinya untuk membuat
kakek bahagia akhirnya terwujud.
Seminggu
berlalu penuh keriangan. Jingga tak sabar menanti acara peringatan tujuh belas
agustusan. Kakek telah membelikannya sarung tangan dan peci hitam baru. Jingga
akan memakainya saat menjadi pengibar bendera nanti.
Siang
itu, sehari sebelum tanggak 17 agustus, Bu Asti memanggilnya. Kali ini tak
tampak senyum samar di kedua mata beliau.
“jingga,
maafkan ibu...ibu harus terus terang.” Jingga menatap gurunya tak mengerti.
_kenapa ibu minta maaf.
“ibu
bangga padamu. Sangat. Kamu telah memenuhi semua syarat yang ibu ajukan untuk
menjadi pengibar bendera.”
“tapi
maaf. Kamu tetap tidak bisa menjadi pengibar bendera. Pak kepala sekolah tidak
mengizinkannya....!”
JEDERRRRR.
Kabar itu bak petir yang meruntuhkan semua impiannya. Kenapa? Batinnnya. Karena
ia pincang? Tapi bagaimana dengan semua usahanya untuk mendapatkan nilai
seratus dan latihan menyanyinya ? apakah itu sama sekali tak berari?. Jingga
terisak.
Kakek
hanya tersenyum padanya mendengar hal itu. Merangkulnya yang masih terus
sesegukan.
“kakek
sudah bangga padamu. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga. Kakek lihat itu!” kata
kakek. Peghiburan kakek membuat tangis jingga makin keras.
Jingga
bolos sekolah pada saat sekolahnya mengadakan upacara 17 agustusan. Ia memilih
menemani kakek menyemai bibit jagung di kebun.
Ssari
datang menemuinya usai upacara bendera. Memberinya kejutan dengan memberikan
bendera merah putih yang dijahitkan ibunya. Sari punya ide. Mereka akan
mengadakan upacara bendera di kebun jagung sempit milik kakek. Jingga setuju.
Bertiga dengan kakek dan sari mereka mengibarkan bendera merah putih. Dengan
langkah terpincang-pincang jingga meneriakkan aba-aba dengan nyaring.
Mengundang perhatian orang-orang sekitar yang lantas bergerombol menonton.
Langkah tegap mereka yang teredam tanah kebun terarah lurus pada tiang dari
kayu bekas pagar yang tak terlalu tinggi.
Dengan
lantang jingga menyanyikan lagu Indonesia raya sembari menarik bendera agar
sampai ke puncak kayu yang ditancapkan kakek di tengah kebun. Tiba-tiba koor lagu indonesia raya bergema
nyaring dari arah barat. Jingga berpaling dan matanya memandang wajah-wajah
teman-temannya yang di giring bu asti ke tengah kebun. Mereka bernyanyi dengan
lantang. Beberapa ada yang bahkan menangis.
Jingga
juga ikut menangis. Meskipun sederhana. Meskipun di tengah kebun sempit.
Meskipun hanya di kayu bekas pagar yang ujungnya terbakar. Ia telah mewujudkan
mimpi kakek. Juga mimpinya untuk membuat kakek bangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar