Selasa, 29 September 2015

cerpen
Mimpi jingga
“anak pincang mana bisa jadi pengibar bendera...weeeee!” seru Kadita sambil memonyongkan bibirnya. Mencibir penuh penghinaan pada Jingga. Jingga yang sedari tadi sedang sibuk bercerita tentang mimpinya kesal setengah mati. Kalau saja ia anak yang sedikit lebih berani, ia sudah pasti akan menghampiri Kadita dan  dua antek-anteknya itu untuk memberinya pelajaran. Minimal melayangkan jotosan ke mulut yang akan membuatnya bungkam. Sari teman sebangkunya Cuma bisa menatap iba padanya. Mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi menghadapi Kadita yang sangat populer di sekolah dengan segudang prestsinya.
Tadi tak sengaja Kadita yang bertubuh tinggi langsing itu mendengar pembicaraan Jingga dan Sari. Jingga ingin sekali menjadi pengibar bendera saat acara tujuh belasan nanti. Ia ingin membuat kakeknya yang seorang veteran pejuang ’45 bangga. Selama ini, kakek tak punya apapun untuk dibanggakan. Orang-orang hanya mengenang dan menghormatinya menjelang peringatan tujuh belas agustus. Selepas itu, ia ditinggalkan dan dilupakan. Di usia senjanya, kakek yang dulu berjuang sekuat tenaga bertaruh nyawa untuk mengantarkan negara ini menuju kemerdekaan tak punya apa-apa selain sepetak kebun kecil di belakang rumah yang menjadi sandaran hidup kakek dan Jingga.
Jingga telah ikut kakek sejak kecil. Semenjak ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan pabrik dan ibunya terpaksa menjadi seorang TKW ke Arab Saudi. Kakek orang yang penuh kebanggaan pada bangsanya. Terlepas dari kenyataan bahwa negara yang ia cintai mati-matian cenderung melupakannya dan perjuangannya. Kakek sama sekali tak mempermasalahkannya. ia tetap bangga dan cinta pada negaranya dengan sepenuh jiwa dan raga. Matanya selalu berkaca-kaca setiap kali menyaksikan upacara pengibaran bendera di televisi. Kakek yang seminggu lagi genap berusia 80 tahun itu selalu mengambil sikap sempurna. Berdiri tegap dengan tangan terangkat ketika layar televisi 14 inci mereka yang gambarnya sudah dipenuhi semut menayangkan detik-detik bendera naik. Kakek tak pernah mengeluh.
 Ia tak pernah mengungkit-ungkit perjuangannya pada orang lain. Hanya pada Jingga, cucu satu-satunya kakek menceritakan kisah-kisah seru perjuangannya bersama teman-temannya menembus hutan kalimantan, menghadang konvoi mobil – mobil belanda berbekal senjata seadanya. Jingga terdiam acapkali kakek mulai bercerita. Kakek sangat pandai bercerita. Penuh penghayatan. Cerita-cerita kakek selalu diakhiri dengan bagaimana para pejuang akan mengangkat bendera tinggi-tinggi ketika berhasil menumbangkan para pasukan kompeni.
Jingga ingin sekali membuat kakek bahagia. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Sampai ia tahu bahwa keinginan terbesar kakek adalah melihat cucunya mengenakan seragam putih-putih, berpeci hitam legam dan berdiri tegap mengibarkan bendera.
Jingga kini tahu apa harapan terbesar kakeknya. tapi ia tahu harapan itu tidak akan pernah terwujud. Tak akan pernah ada yang memilihnya sebagai pengibar bendera dengan kaki pincangnya. Bahkan tidak upacara bendera di sekolah. Mungkin Kadita memang benar. Tapi Jingga tak ingin menyerah.
“coba tanya dulu sama Bu Asti.” Saran Sari sahabatnya. Memintanya untuk tetap bersemangat dengan mimpinya menjadi pengibar bendera. Jingga menuruti saran Sari.dengan wajah tak bisa ditebak, Bu Asti hanya tersenyum samar. “kamu boleh jadi pengibar bendera sekolah dia acara tujuh belasan nanti kalau bisa dapat nilai seratus di semua ulangan. Jingga melongo. Waduh. Syaratnya kok berat sekali. Mana bisa ia dapat seratus di semua ulangan?. Memangya dia Albert Einstein. Tapi ia harus berusaha. Jingga kemudian belajar mati-matian siang-malam, menghafalkan semua pelajaran sampai matanya merah kurang tidur.
Dan hasilnya sungguh diluar dugaan. Ia mendapat nilai seratus di lima mata pelajaran pokok. Hal yang belum pernah dicapainya. Kakek pasti akan melihatnya menjadi pengibar bendera. Ia mendatangi Bu Asti. Wali kelasnya itu kembali hanya tersenyum samar.
“kamu bisa menyanyi? Tanya bu asti. Jingga hanya menggeleng.
“sayangnya itu salah satu syaratnya.” Jingga kembali melongo. Syarat lagi? Bukannya syarat nilai seratus itu sudah cukup? Ia sudah nyaris pingsan kelelahan mengejar nilai itu. Masa itu belum cukup juga.
“kamu harus dapat nilai sempurna di praktek kesenian. Prakteknya menyanyikan lagu wajib. Jingga nyaris protes lagi. Itu mustahil. Seumur-umur jingga tak pernah dapat nilai bagus saat praktek menyanyi. Jingga ingin sekali berteriak dalam hati. IA TIDAK BISA NYANYIIIIII!!!!.
Dua hari lagi praktek kesenian diadakan. Jingga yang memilih lagu indonesia pusaka berlatih tanpa henti. Semua pekerjaan rumah seperti cuci piring, merapikan kamar, membuat kopi untuk kakek ia lakukan sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara tak keruan.
Ia juga belajar menyanyi pada pelatih paduan suara, tetangga sebelah rumah sari dengan imbalan mencuci piring di restoran milik beliau selama seminggu penuh. Piring yang harus dicucinya seusai latihan seabrek-abrek banyaknya, membuat jingga pulang ke rumah reyotnya dengan tubuh serasa rontok. Tapi tak apa. Pikirnya. Semua keletihanya akan dibayar dengan senyum bangga kakek melihatnya menjadi pengibar bendera.
Hari praktek kesenian tiba. Dengan jantung berdegup tak keruan dan mata setengah mengantuk akibat tak tidur semalaman untuk latihan menyanyi jingga maju ke depan kelas dan mengingat-ingat semua pelajaran menyanyinya. Usai bernyanyi, tanpa diduga semua teman-temannya bertepuk tangan riuh. Ia tersenyum penuh kemenangan. Merah putih, tunggu aku. Soraknya dalam hati.
Pulang sekolah ia berlari kencang meuju kebun. Mencari kakek. Mengabarkan berita gembira itu. Kakek memeluknya penuh haru. Bahkan pandangan berkaca-kaca yang hanya terlihat saat kakek meonton upacara bendera di televisi tampak jelas di kedua pelupuk matanya. Kakek bahagia. Jingga berhasil. Mimpinya untuk membuat kakek bahagia akhirnya terwujud.
Seminggu berlalu penuh keriangan. Jingga tak sabar menanti acara peringatan tujuh belas agustusan. Kakek telah membelikannya sarung tangan dan peci hitam baru. Jingga akan memakainya saat menjadi pengibar bendera nanti.
Siang itu, sehari sebelum tanggak 17 agustus, Bu Asti memanggilnya. Kali ini tak tampak senyum samar di kedua mata beliau.
“jingga, maafkan ibu...ibu harus terus terang.” Jingga menatap gurunya tak mengerti. _kenapa ibu minta maaf.
“ibu bangga padamu. Sangat. Kamu telah memenuhi semua syarat yang ibu ajukan untuk menjadi pengibar bendera.”
“tapi maaf. Kamu tetap tidak bisa menjadi pengibar bendera. Pak kepala sekolah tidak mengizinkannya....!”
JEDERRRRR. Kabar itu bak petir yang meruntuhkan semua impiannya. Kenapa? Batinnnya. Karena ia pincang? Tapi bagaimana dengan semua usahanya untuk mendapatkan nilai seratus dan latihan menyanyinya ? apakah itu sama sekali tak berari?. Jingga terisak.
Kakek hanya tersenyum padanya mendengar hal itu. Merangkulnya yang masih terus sesegukan.
“kakek sudah bangga padamu. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga. Kakek lihat itu!” kata kakek. Peghiburan kakek membuat tangis jingga makin keras.
Jingga bolos sekolah pada saat sekolahnya mengadakan upacara 17 agustusan. Ia memilih menemani kakek menyemai bibit jagung di kebun.
Ssari datang menemuinya usai upacara bendera. Memberinya kejutan dengan memberikan bendera merah putih yang dijahitkan ibunya. Sari punya ide. Mereka akan mengadakan upacara bendera di kebun jagung sempit milik kakek. Jingga setuju. Bertiga dengan kakek dan sari mereka mengibarkan bendera merah putih. Dengan langkah terpincang-pincang jingga meneriakkan aba-aba dengan nyaring. Mengundang perhatian orang-orang sekitar yang lantas bergerombol menonton. Langkah tegap mereka yang teredam tanah kebun terarah lurus pada tiang dari kayu bekas pagar yang tak terlalu tinggi.
Dengan lantang jingga menyanyikan lagu Indonesia raya sembari menarik bendera agar sampai ke puncak kayu yang ditancapkan kakek di tengah kebun.  Tiba-tiba koor lagu indonesia raya bergema nyaring dari arah barat. Jingga berpaling dan matanya memandang wajah-wajah teman-temannya yang di giring bu asti ke tengah kebun. Mereka bernyanyi dengan lantang. Beberapa ada yang bahkan menangis.
Jingga juga ikut menangis. Meskipun sederhana. Meskipun di tengah kebun sempit. Meskipun hanya di kayu bekas pagar yang ujungnya terbakar. Ia telah mewujudkan mimpi kakek. Juga mimpinya untuk membuat kakek bangga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar